“Yang cukup tragis ketika terjadi bencana likuifaksi di palu, ketika ada sebuah kampung yang tenggelam dipenuhi lumpur, kampung itu sekarang namanya Balarowa tapi ada komunitas sejarah di Sulawesi Tengah, dulu itu sekian generasi yang lalu ini namanya bukan Balarowa tapi Londo atau Nalondo, itu artinya lumpur atau tenggelam di lumpur, berarti nenek moyang kita sudah tau itu daerah yang rawan Likuifaksi, tapi mungkin dulu belum ada istilah likuifaksi nah itulah sejak dulu turun temurun daerah itu kosong tidak dihuni, karena masyarakat tau arti nama itu tenggelam di lumpur, nah sekarang kan jadi pemukiman akibatnya terjadi bencana seperti itu, jadi nama juga memberikan kearifan lokal yang seharusnya kita perhatikan,” tambahnya.
Terkait penamaan tempat, Ade mengingatkan pentingnya mempertahankan nama-nama geografis. Pengubahan nama secara sembarangan akan mengubah ikatan sejarah dan mengaburkan identitas. Nama Rupabumi baku sangat penting dalam hubungannya dengan dunia internasional dan Indonesia terlibat aktif dalam forum United Nations Groups of Experts on Geographical Names (UNGEGN).
Rupabumi adalah permukaan bumi beserta objek yang dapat dikenali identitasnya baik berupa Unsur Alami maupun Unsur Buatan.
Baca Juga: Kasus Aktif Covid-19 Masih Tinggi, Anies Lanjutkan PPKM
(Arief Setyadi )