Kudeta Militer Myanmar, Perempuan yang Diduga Ditembak di Aksi Demo dalam Kondisi Kritis

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 11 Februari 2021 05:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 11 18 2360181 kudeta-militer-myanmar-perempuan-yang-diduga-ditembak-di-aksi-demo-dalam-kondisi-kritis-gDd8Nl8E1T.jpg Aksi demonstrasi di Myanmar (Foto: Reuters)

YANGON - Seorang perempuan yang ikut unjuk rasa menolak kudeta militer di Myanmar dilaporkan dalam kondisi kritis dan dinyatakan mengalami "kematian otak". Ia diduga tertembak peluru tajam oleh aparat keamanan.

Dia terluka pada protes pada hari Selasa (09/02) di ibu kota Nay Pyi Taw, saat polisi berusaha membubarkan pengunjuk rasa menggunakan meriam air, peluru karet dan peluru tajam.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan luka-luka yang dialami perempuan itu konsisten dengan luka akibat peluru tajam.

Sejumlah laporan menyebutkan ada pengunjuk rasa yang mengalami luka parah karena polisi meningkatkan kekuatan, tetapi sejauh ini belum ada korban jiwa.

Tembakan peringatan dilaporkan ditembakkan ke udara sebelum peluru karet ditembakkan ke kerumunan, Namun dokter mengatakan tampaknya amunisi langsung (peluru tajam) mengenai pengunjuk rasa.

(Baca juga: Dukung Palestina di Masa Pandemi Covid-19, Indonesia Berkomitmen Salurkan Bantuan Rp32 Miliar)

Menurut BBC Myanmar, yang berbicara dengan petugas medis yang tidak disebutkan namanya dari rumah sakit Nay Pyi Taw, seorang perempuan menderita cedera kepala yang serius dan seorang demonstran lainnya mengalami cedera dada. Wanita itu sekarang dalam perawatan intensif.

Kelompok hak asasi manusia dan outlet berita lokal mengatakan perempuan itu ditembak di kepala saat melakukan protes.

Menurut laporan Human Rights Watch, seorang dokter dari rumah sakit mengatakan perempuan itu memiliki "proyektil yang bersarang di kepalanya dan telah kehilangan fungsi otak yang signifikan".

Dokter itu mengatakan luka perempuan konsisten dengan peluru tajam, dan peluru logam telah menembus bagian belakang telinga kanannya. Seorang pria yang terluka pada protes yang sama juga tampaknya memiliki luka serupa.

(Baca juga: Bertemu Menlu Maliki, Menlu RI Tekankan Pentingnya Persatuan Palestina)

Laporan terpisah oleh Fortify Rights mengutip seorang dokter yang mengatakan perempuan itu mengalami mati otak karena "luka tembak yang fatal di kepala".

Sebelumnya, sebuah rekaman beredar di media sosial (medsos) menunjukkan seorang perempuan sedang ditembak. Rekaman itu menunjukkan seorang perempuan yang mengenakan helm sepeda motor itu tiba-tiba roboh. Secara terpisah, gambar di medsos menunjukkan apa yang tampak seperti helm berlumuran darah. BBC belum memverifikasi ini.

Diketahui, puluhan ribu orang melakukan protes di jalan-jalan menentang kudeta -menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis minggu lalu- meskipun ada larangan baru-baru ini dilakukannya pertemuan besar dan diberlakukannya jam malam.

Demonstrasi dimulai kembali pada Rabu pagi (10/02), untuk hari kelima berturut-turut, dengan sekelompok besar pegawai negeri berkumpul di Nay Pyi Taw untuk berdemonstrasi.

Protes sebelumnya terhadap pemerintahan militer selama puluhan tahun di negara itu, pada 1988 dan 2007, menyebabkan para demonstran tewas.

  • Militer Myanmar 'serbu dan hancurkan' markas NLD

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyuarakan "keprihatinan yang kuat" atas kekerasan hari Selasa.

"Penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran tidak dapat diterima," kata Ola Almgren, koordinator penduduk dan koordinator kemanusiaan PBB di Myanmar.

Pada Selasa malam, militer Myanmar juga "menyerbu dan menghancurkan" markas NLD, kata partai itu.

BBC Myanmar melaporkan pasukan keamanan mendobrak pintu secara paksa Selasa malam. Tidak ada anggota partai yang hadir di gedung itu.

Penggerebekan itu terjadi selama jam malam nasional, yang berlangsung dari pukul 20:00 hingga 04:00 waktu setempat.

Larangan orang berkumpul dan jam malam diterapkan di sejumlah kota dan pemimpin militer Min Aung Hlaing memperingatkan tak ada yang berada di atas hukum.

Ia tidak mengeluarkan ancaman langsung kepada demonstran, tetapi TV negara memperingatkan bahwa "langkah akan diambil" terhadap mereka yang melanggar hukum, menyusul pidato Hlaing.

Militer melarang pertemuan lebih dari lima orang di kota Yangon dan Mandalay dan menerapkan aturan jam malam.

Aturan diterapkan setelah tiga hari berturut-turut protes massal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini