Share

Tahun Baru Imlek, Kekhawatiran Perempuan Asia saat Santap Bersama Keluarga

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 12 Februari 2021 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 12 18 2360842 tahun-baru-imlek-kekhawatiran-perempuan-asia-saat-santap-bersama-keluarga-4uhC3vgJap.jpg Tahun Baru Imlek (Foto: Reuters)

HONG KONG - Bagi banyak orang di Asia yang merayakan Tahun Baru Imlek, santap bersama dengan keluarga merupakan momen menyenangkan. Namun, bagi Stephanie Ng di Hong Kong, momen itu justru mengundang masalah.

Mengapa? Karena Stephanie Ng didiagnosis mengidap anoreksia nervosa saat berusia 16 tahun.

Anoreksia merupakan gangguan makan dan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan citra tubuh yang terdistorsi, takut menjadi gemuk, serta diet atau olahraga berlebihan yang menyebabkan penurunan berat badan yang parah.

"Suasananya terganggu oleh kekhawatiran saya soal makanan," ujar Stephanie setiap kali menghadapi perayaan Tahun Baru Imlek.

"Ada begitu banyak makanan...asin, manis, garing, dan saya mulai menolaknya karena menurut berbagai hal yang saya baca di media Barat menyarankan saya agar berhati-hati atas apapun yang saya makan dan yang diasup ke tubuh,โ€ terangnya.

(Baca juga: AS Berlakukan Sanksi Tambahan terhadap Myanmar, Bekukan Aset hingga Ekspor yang Diperketat)

ย Banyak perempuan juga mengalami masalah yang serupa. Memang tidak ada angka resmi atas jumlah orang yang mengalami gangguan makan di Hong Kong, namun menurut data YouGov 2015 dan jajak pendapat oleh lembaga The Women's Foundation atas 500 perempuan di Hong Kong, 9 dari 10 responden seringkali memikirkan berat badan mereka.

Masalah gangguan makan telah meningkatkan keprihatinan masyarakat di negara-negara Asia.

Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi gangguan makan di kalangan mahasiswi di China bisa menyamai bahkan melampaui kasus serupa yang dilaporkan di negara-negara barat, seperti Amerika Serikat.

Gangguan makan yang kini lazim terjadi itu muncul di tengah sejumlah perubahan besar di Asia, saat makin banyak perempuan yang terjun ke dunia kerja, dan dalam beberapa kasus mereka menjadi pemberi nafkah utama keluarga.

(Baca juga: Gedung Putih Kutuk Serangan Bandara Arab Saudi)

Para ahli berpendapat bahwa makin banyak daya belanja dan budaya konsumerisme yang meningkat turut menambah kepedulian akan citra tubuh.

Norma-norma kultural dan tekanan keluarga juga membentuk sikap dan keterikatan emosional terhadap makanan.

"Momen-momen sosial semacam ini sering menjadi pemicu bagi mereka yang mengalami gangguan makan," ujar Dr Chua Sook Ning, psikolog klinis di Malaysia for Relate.

Situasi seperti itulah yang tengah mendera Stephanie.

Sebagai seorang perempuan, dia mengalami tekanan yang kuat untuk tetap kurus. Namun, sebagai seorang perempuan di China, ada tekanan yang sama besarnya untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua dan tuan rumah untuk menyantap hidangan di acara-acara perayaan.

"Hal-hal yang bertentangan itu bisa mempengaruhi pola maka dan persepsi akan citra tubuh bagi perempuan muda China," kata Stephanie.

Itulah yang membuat Stephanie mempelajari masalah itu dan baru-baru ini mempublikasikan tesis mengenai topik tersebut.

Kecewa dengan kurangnya dukungan bagi kaum muda yang memiliki gangguan makan, dia juga membuat blog daring (online) yang mengajak mereka untuk meredefinisi hubungan dengan tubuh mereka dengan menyediakan platform untuk berbagi cerita masing-masing.

  • Kelewat Batas

"Saat masih remaja, menolak budaya makan China dan perlahan mulai membentuk diri saya sebagai pribadi yang baik dengan makan secara sehat dan berolahraga," jelasnya.

"Bahkan sebelum saya didiagnosis mengidap gangguan makan, yang saya yakini adalah ortoreksia, hanya mau makan yang bersih saja."

Ortoreksia belum digunakan sebagai diagnosis psikiatris, namun digunakan untuk menggambarkan gangguan makan yang mana orang membatasi diet mereka pada makanan yang hanya dipandang sehat.

Pola makan seperti ini bisa membuat seseorang merasa sangat cemas atau bersalah bila mengonsumsi makanan yang dirasa tidak sehat, seperti yang dialami Stephanie.

Bila ada kerabatnya yang menyinggung soal kebiasaan makannya yang baru, Stephanie mengaku merasa "superior" sambil meyakini bahwa itu merupakan cara mengungkapkan jati dirinya.

"Hampir mirip aksi memberontak, muncul perasaan 'Saya tidak bisa lagi dikontrol,'" katanya.

Namun apa yang telah dilakukan Stephanie itu langung berdampak pada kondisi tubuhnya dan siklus menstruasinya berhenti sama sekali.

"Saya berupaya kurangi berat badan secara membabi buta dan ini yang membuat saya kelewat batas...tiap kali timbang berat badan, saya berpikir, 'Ini tidak memberi saya kepuasan yang saya butuhkan,'" jelasnya.

  • Takut dengan makanan

Stephanie ingat saat ibunya pulang suatu hari sambil membawa daftar gejala anoreksia dari Asosiasi Gangguan Makan Hong Kong.

"Kami duduk membicarakan daftar yang dibawa itu dan mencontreng semua kolom. Saya ingat perasaan kalem dan tidak menghakimi dari ibu saya," katanya.

Berkat bantuan ibunya, Stephanie akhirnya mendapat pertolongan. Selama "periode pengasupan lagi" dia tidak boleh olahraga.

Dia menggambarkan suka duka upayanya untuk pulih, termasuk kekambuhan yang dialami saat menempuh tahun pertama kuliah di Amerika Serikat.

Setelah sekian tahun mengatasi gangguan makan, Stephanie mengaku kini bisa mengatasi takut akan makanan saat kumpul-kumpul merayakan Tahun Baru Imlek.

"Saya kini tidak lagi mengalami situasi bila saya makan, maka harus olahraga lebih banyak lagi. Kini saya punya dukungan dari keluarga atas soal itu dan saya menikmatinya dan merasa senang. Ini bukan hanya soal makanan," jelasnya.

Riset yang dilakukan Stephanie membawanya pada kesimpulan bahwa banyak perempuan China yang masih menghadapi perjuangan berat saat menyesuaikan budaya Asia Timur dengan standar citra tubuh mereka.

"Salah seorang yang saya wawancarai mengungkapkan cerita yang biasa didengar saat tumbuh dewasa bahwa bila tidak menghabiskan nasi atau masih ada sisa nasi di mangkuk, kamu akan nikah dengan orang yang tidak bersih," kata Stephanie.

"Cerita-cerita seperti itu yang terkait dengan pola makan dan menanamkan rasa takut pada kita,โ€ lanjutnya.

Namun, lanjut Stephanie, ini bukan hanya soal tekanan dari keluarga, media sosial pun punya andil. Dalam beberapa tahun terakhir di China bermunculan forum-forum online mengenai kebiasaan makan berlebihan lalu dimuntahkan (binging and purging).

Di forum-forum itu, ada perempuan yang berbagi "saran" soal bagaimana mengurangi berat badan dengan menjadi sakit sambil tetap makan yang berlebihan.

Lewat terapi dan studi secara mandiri, dia lalu mulai memahami lebih banyak mengenai gangguan makan yang diidapnya.

"Saya telah melekatkan makna yang emosional pada makanan saya," jelasnya.

Stephanie mendapatkan diagnosis dan menerima terapi tambahan saat belajar di AS. Namun, menurut kalangan profesional medis, di Asia masih kekurangan psikolog dan psikiater, sehingga banyak orang yang belum terdiagnosa atau menerima dukungan vital yang mereka perlukan.

  • Dari blog pribadi jadi organisasi nirlaba

Kurangnya dukungan di kawasan itu menyebabkan Stephanie mengambil inisiatif di luar pemulihannya sendiri.

Blog daring "Body Banter", yang dibuat saat masih jadi mahasiswi, dia kembangkan menjadi organisasi nirlaba.

Body Banter kini berkolaborasi dengan kaum muda di penjuru dunia dan telah menciptakan komunitas internasional, duta-duta, yang didukung Stephanie bersama tim pimpinannya untuk proyek-proyek lokal yang meningkatkan kesadaran sekitar masalah citra tubuh dan kesehatan mental.

Para duta Body Banter itu menulis blog, menggelar podcast, dan membuat grup-grup diskusi di universitas dan kampus masing-masinguntuk menciptakan ruang aman bagi kaum muda dalam membicarakan hal yang dulunya masih dipandang tabu tersebut.

Body Banter memiliki tekad yang kuat. Apalagi tantangan-tantangan besar yang disebabkan gangguan makan sudah melampaui kampus-kampus dan menghinggapi rumah-rumah di penjuru Asia.

  • Hantu mengambang

Saat putri Julia Yoon didiagnosis mengidap anoreksia, dia tidak mengira sampai tidak menyadari gejala-gejalanya. Ini membuat Julia menempuh pelatihan mandiri sebagai konselor gangguan makan di London untuk menolong perempuan muda yang mengalami masalah serupa. Bantuan itu dia rasa masih kurang di Korea Selatan.

"Banyak perempuan dia Korea Selatan yang masih belum mengetahui apa itu gangguan makan. Mereka merasa kebiasaan dietnya normal-normal saja, namun sebetulnya mereka idap anoreksia," katanya.

Julia kini memberi penjelasan di sekolah-sekolah untuk membangkitkan kesadaran seputar gangguan makan di kalangan konselor sekolah.

Dia pun baru-baru ini menerjemahkan sebuah buku berbahasa Inggris ke bahasa Korea mengenai cara orang tua menolong anak-anak mereka yang masih remaja untuk mengatasi gangguan makan.

"Seringkali orang tua menyalahkan diri dan buku ini justru membantu saya menyadari bagaimana bisa menolong putri saya, termasuk menunjukkan empati dan kesabaran," jelasnya.

Namun, bukan berarti prosesnya tidak berliku. Ada yang "menyakitkan" jelasnya.

Sebagai seorang ibu di Korsel, dia sadar betul tekanan yang dihadapi perempuan-perempuan muda. Namun, Julia tidak menyangka bahwa justru di sekolah tari putrinya muncul anjuran agar anaknya itu menurunkan berat badan.

Di suatu studio tari bernuansa kompetitif yang diikuti putrinya, dia selalu menimbang berat badan bersama sesama balerina. Mereka lalu disarankan hanya makan nasi merah tiga sendok saja tiap sarapan dan makan malam serta salad untuk makan siang.

"Kita cenderung mengidolakan standar kencantikan ala Barat," kata Julia.

Saat Julia berbicara dengan kepala sekolah tari itu, dia dibilang bahwa, "Gadis-gadis Korea lebih pendek, sehingga mereka perlu kurangi lebih banyak berat badan agar terlihat lebih tinggi seperti para penari di Barat."

Lima tahun kemudian, dia mengeluarkan putrinya dari studio itu, namun efek negatifnya sudah terjadi. Putrinya membatasi dietnya untuk sekian lama sehingga mulai makan secara berlebihan, yang juga termasuk gangguan makan, yang ditandai dengan hilangnya kendali pola makan dan merasa bersalah karenanya.

Sebagai orang tua, Julia merasa tidak berdaya karena kurangnya pakar yang ada di Korsel. "Kami hanya punya sedikit psikiater yang setahu saya benar-benar spesialis di bidang [gangguan makan] ini," ujarnya.

Saat diperiksa oleh psikiater, akhirnya diketahui putrinya mengidap anoreksia nervosa, sehingga mendapat pengobatan dan skema pola makan.

"Saya masih ingat kejadian itu. Saya dan suami duduk di sofa bersama putri kami yang sesenggukan di pangkuan kami sambil mengaku tidak punya tenaga lagi untuk berjalan dan berdiri, menangis minta tolong," ujar Julia.

  • Pulih dan kambuh

Kecewa dengan kurangnya dukungan psikologis bagi putrinya di Korea, Julia dan suaminya lalu pindah sekeluarga ke belahan dunia lain, Amerika Serikat, agar anak mereka bisa dirawat oleh tenaga spesialis di Unit Gangguan Makan University of San Diego, yang menggunakan pendekatan terapi berbasis keluarga.

"Ada ahli gizi, dokter anak, terapis seni, psikiater, psikolog, dan para pakar lainnya yang bekerja bersama-sama sehingga membuat saya terinspirasi," kata Julia.

Namun ketika mereka tiba, Julia diberi tahu bahwa putrinya menderita bradikardia, atau detak jantung melemah, sehingga dirawat di rumah sakit selama 13 hari. Akhirnya, setelah selesai diopname, perawatan oleh tim spesialis tersebut bisa dimulai.

Setelah berada di AS selama lebih dari sebulan dan dilengkapi oleh sejumlah alat yang mereka pelajari selama berada di unit spesialis tersebut, keluarga Julia kembali ke Korsel. Melalui sejumlah cara, termasuk tidak berolahraga dan tidak boleh makan sendirian tanpa diawasi, berat badan putrinya naik mencapai 53 kg dan mulai menstruasi lagi.

Julia pun memutuskan menyewa instruktur les privat tari dari Paris sehingga putrinya bisa mulai menari lagi.

Dia mendukung putrinya untuk secara bertahap keluar rumah dan mendaftar ke kampus tari di AS.

Sedangkan Julia pergi ke London untuk belajar di Pusat Nasional Gangguan Makan sehingga dia bisa lebih siap untuk membantu putrinya secara mental.

Namun, putri Julia menghadapi kenyataan yang sulit saat belajar di AS. Impian untuk menjadi penari sulit digapai dan dia pun kambuh lagi. Disertai tekad yang kuat, dia pulang ke Korsel.

Putri Julia lalu menjadi depresi, mulai makan berlebihan dan mulai mengalami pikiran-pikiran menyakitkan yang pernah menghinggapinya. Itulah kondisi yang muncul saat merasa hidupnya berada di tahap yang paling sulit.

Namun, dengan ikut berbagai kegiatan dan kelas di Korsel, Julia mendukung putrinya untuk memulihkan hidupnya.

"Menurut saya, sifat tulusnya yang ingin membantu dan berbuat baik bagi orang lain memiliki dampak positif bagi pemulihannya," kata Julia mengenai putrinya itu.

Dia lalu mulai memberi les tari di gerejanya, menekuni seni, dan tertarik pada psikologi. Kini, Julia menggambarkan putrinya itu telah berkembang dengan"kehidupan yang baru dan tak terduga." Dia pun berharap bisa menempuh karier sebagai pembaca berita di televisi atau psikolog.

"Gangguan makan itu sangat manipulatif dan menimbulkan trauma bagi keluarga. Meski jalannya menyakitkan, saya tahu bahwa ini yang membuat kami bertumbuh dan mempersatukan keluarga kami," kata Julia.

  • 'Tak ada yang tahu apa yang bakal terjadi'

Kini baik Julia dan Stephanie memiliki waktu yang sangat sibuk.

Julia beberapa pekan lalu membuka praktik konseling sekaligus Unit Gangguan Makan, satu dari sedikit yang ada di Korsel. Sedangkan putrinya kini berkuliah jurusan psikologi di Korsel dan membantu Julia di tempat konselingnya.

Julia berharap unit konselingnya itu bisa membantu lebih banyak orang yang mengalami gangguan makan.

"Banyak perempuan di Korea Selatan hanya terpaku pada penampilan dan membanding-bandingkan pola diet mereka dan saya ingin mengubah budaya itu," kata Julia.

Sementara itu Stephanie memikirkan dampak pandemi bagi kesehatan mental.

"Gangguan makan lebih pada kontrol diri, sedangkan soal pandemi masalahnya adalah tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi. Ada saat bagi orang-orang untuk merenung bagaimana bisa mengendalikan pola makan,โ€ bebernya.

Mereka sama-sama berharap bahwa dengan terus memelihara komunikasi dan menciptakan ruang aman, mereka bisa mendukung orang-orang lain yang tengah berjuang sekaligus membantu menyadari bahwa mereka tidaklah sendirian.

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini