Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kudeta Myanmar : Pasukan Keamanan Gunakan Peluru Tajam saat Hadapi Demonstran

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 13 Februari 2021 |06:06 WIB
Kudeta Myanmar : Pasukan Keamanan Gunakan Peluru Tajam saat Hadapi Demonstran
Pengunjuk rasa di Yangon, Myanmar. (Reuters)
A
A
A

Darah di bagian dalam helm pada gambar lain yang dibagikan di media sosial sejajar dengan lekukan di bagian luar, menunjukkan bahwa helm tersebut telah ditembus. Bukti yang ada menunjukkan bahwa dalam peristiwa ini, penetrasi itu disebabkan oleh peluru, kata Dr Hewins.

"Saya tidak melihat bagaimana [penetrasi] itu bisa disebabkan oleh hal lain, dan itu sangat tidak mungkin merupakan amunisi yang tidak mematikan."

"Cara perempuan itu jatuh menunjukkan amunisi senjata kecil telah ditembakkan ke kepala, alih-alih dampak/guncangan yang disebabkan proyektil yang tidak mematikan."

Video tidak menunjukkan si peluru memantul dari permukaan lain sebelum menghantam perempuan itu, meskipun ini mungkin saja terjadi. Pantulan akan mengurangi kecepatan hantaman. "Ini tampaknya dampak langsung," kata Dr Hewins.

Seorang dokter yang berbicara secara anonim kepada Reuters di rumah sakit Nay Pyi Taw, mengatakan sebuah peluru telah menembus bagian belakang kepala perempuan yang terluka itu.

Siapa yang melepaskan tembakan?

Dari video penembakan, perempuan itu tampak membelakangi garis polisi, dan sudut lintasan peluru yang mengenai helmnya kira-kira sama dengan arah tembakan dari garis polisi.

Insiden itu memantik perburuan di media sosial, yang didorong oleh anak-anak muda pengguna Facebook di Myanmar. Banyak spekulasi dan kemarahan berpusat pada seorang petugas polisi yang tampak dalam gambar sedang memegang senapan. Foto itu diambil oleh fotografer Reuters saat unjuk rasa.

Foto-foto lain juga menunjukkan bahwa dia bukan satu-satunya petugas bersenjata di protes itu.

Namun, kami tidak dapat memastikan siapa petugas itu, atau apakah dia menembaki pengunjuk rasa.

Namun warganet di media sosial bertekad untuk mengidentifikasinya.

Tak lama setelah penembakan tersebut, muncul dua nama pria, keduanya dituduh warganet sebagai anggota polisi bersenjata dalam foto tersebut.

Foto-foto keluarga dari akun Facebook pribadi diunggah dan dibagikan ribuan kali, poster "buronan" pun dibuat. Salah satu pria yang disebutkan di media sosial mengatakan dia telah menjadi korban "berita palsu" dan membantah kalau ia terlibat.

Laman Facebook pria yang satu lagi sudah tidak aktif. Satu foto dirinya di Instagram telah menarik ribuan komentar bernada geram.

Martir bagi pengunjuk rasa

Sejak internet mulai kembali pulih setelah sempat dibatasi saat kudeta, para pengunjuk rasa sangat aktif berbagi pesan pro-demokrasi.

Foto dan video penembakan telah dibagikan bersama dengan tagar populer seperti #WhatsHappeningInMyanmar dan #Feb9Coup.

Gambar-gambar yang dibagikan ini telah membuat kelompok HAM internasional khawatir.

Human Rights Watch mengatakan, saat menganalisis rekaman penembakan, mereka mengamati "tidak ada tindakan Mya Thwe Thwe Khaing dalam video itu yang menunjukkan kalau dia terlibat dalam tindakan kekerasan atau mengancam akan melakukannya, atau memegang sesuatu di tangannya".

Pasukan keamanan Myanmar punya riwayat panjang dalam menggunakan kekerasan untuk meredam protes.

Tapi Mya Tha Toe Nwe mengatakan dia bertekad untuk melanjutkan aksinya dan punya pesan bagi sesama pengunjuk rasa:

"Saya akan terus melawan mereka. Agar penderitaan adik saya tidak sia-sia, saya memanggil semua orang untuk melawan [militer] untuk membasmi [kediktatoran]. Buatlah peristiwa ini diketahui dunia."

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement