"Jika kampung Mester (kawasan kota) menjadi benih berseminya guru-guru (ilama) betawi, maka kampung kemayoran adalah mata air jago dan jagoan betawi. Silsilah jago/jagoan betawi sulit dilacak. Silsilah jago atau jagoan betawi baru dapat ditelusuri dari akhir abad ke-19" ungkapnya.
Di kampung Kemayoran dikenal seorang jago ahli maen pukulan bernama Murtado. Di kampung Kwitang pada awal abad ke-19 dikenal jagoan bernama Bang Puasa. Di kampung Rawa Belong ada jagoan bernama Pitung. Generasi pelanjut Murtado di kampung Kemayoran adalah Haji Ung. Di kampung Sawah Besar dikenal Ja’man, di Condet dikenal Haji Entong Gendut.
Angkatan berikutnya adalah Jeni dan Sabeni dari Tenabang, lalu Haji Darip dari kampung Klender dan Mujitaba dari kampung Petamburab. Seangkatan Mujitaba dikenal jagoan bernama Mat Item berasal dari kampung Rawabelong.
Pada dasawarsa tahun 1940-an muncul nama H. Jaelani (Mat Jaelani di Kwitang), H. Enjen di Pasar Minggu, Derahman Jeni di Tenabang, Deraman Deos di Sao Besar dan Saibun di Kemayoran. Kemudian dasawarsa tahun 1950-an muncul nama Imam Syafii dan Ahmad Benyamin alias Mat Bendot dari kampung Senen/Tanah Tinggi dan Bir Ali dari kampung Cikini kecil.
"Pada dasawarsa tahun 1960-an H.Asenie dari kampung Petamburan. Setelah era H.Aseni figur jago tidak muncul kembali," pungkasnya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.