Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pierre Tendean Kecelakaan dengan Motor Ducati di Demak

Doddy Handoko , Jurnalis-Sabtu, 20 Februari 2021 |07:14 WIB
Kisah Pierre Tendean Kecelakaan dengan Motor Ducati di Demak
Pierre Tendean. (Foto: Istimewa)
A
A
A

PIERRE Tendean, satu diantara pahlawan revolusim menghabiskan masa remaja di kota Semarang. Selepas lulus sekolah dasar, Pierre Tendean melanjutkan pendidikan menengah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Semarang, tepatnya pada tahun 1952.

SMP Negeri 1 Semarang Nomor 134. Bangunan sekolah ini sekarang sudah tidak ada lagi dan beralih fungsi menjadi gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

"Ada hal yang unik terkait SMP Negeri 1 Semarang, Jenderal Anumerta Ahmad Yani, seorang perwira tinggi Angkatan Darat yang kelak gugur bersama Pierre di Lubang Buaya dalam peristiwa Gerakan 30 September, juga ternyata merupakan alumnus dari sekolah ini," kata Abie Besman, penulis dan editor buku "Piere Tendean Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi". 

Baca juga: Nasihat Istri Jenderal Nasution untuk Pierre Tendean: Jangan Terlalu Memuja Calon Istrimu

Reputasi keluarga Tendean di Semarang termasuk cukup disegani, terutama karena pekerjaan sang ayah yang berprofesi sebagai dokter dan direktur rumah sakit.

Pierre Cakap dalam Pelajaran Olahraga

Pierre termasuk siswa yang cakap dalam olahraga, di antaranya atletik. Ia selalu diperhitungkan sebagai pelari andalan dalam tim lari estafet yang mewakili SMP Negeri 1 Semarang dalam setiap lomba olahraga. 

"Posisinya saat itu adalah pelari ketiga yang bertugas menyerahkan tongkat estafet kepada pelari terakhir," ujarnya. 

Dalam sebuah perlombaan, Pierre pernah mengalami cedera karena otot pahanya tertarik, padahal perlombaan tersebut sangat menentukan. Alhasil, tim mereka gagal memboyong pulang gelar juara. Kenangan ini diceritakan kembali oleh Taslim yang menjadi pelari terakhir dalam perlombaan itu. 

Dalam hal pelajaran, Pierre tergolong biasa-biasa saja untuk kebanyakan mata pelajaran, tetapi cukup menonjol pada mata pelajaran Aljabar dan lagi-lagi bersaing ketat dengan Taslim, yang hampir selalu menjadi juara dalam bidang pelajaran matematika di kelas.

Pada masa SMP ini juga diingat Mitzi (kakak kandung Pierre) adalah saat ketika keluarga Tendean menghabiskan liburan ke Palm Beach, sebuah pantai terkenal saat itu yang berlokasi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Pierre muda sangat menikmati bermandikan matahari dan air laut. Di pantai berpasir hitam itu. Suatu ketika Pierre memukul dadanya dan pamer kepada saudara-saudaranya, ”Iki lho dadaku, endi dadamu (Ini dadaku, mana dadamu).”

Baca juga: Aksi Lettu Pierre Tendean Jadi Mata-Mata di Malaysia

"Karena sejak kecil tinggal dan tumbuh besar di Jawa Tengah, anak-anak keluarga Tendean fasih berbahasa Jawa, selain juga fasih berbahasa Belanda dan bahasa Inggris," ujarnya.

Kata-kata yang diucapkan Pierre saat di Palm Beach itu sebenarnya merupakan salah satu diksi favorit Presiden Soekarno, yang dilontarkannya dengan berapi-api dalam berbagai pidatonya. Salah satunya adalah saat pelantikan Pierre sebagai Letnan dua pada 19 Desember 1961 di Alun-alun Utara Yogyakarta. Pidato ini juga merupakan momen pengumandangan Trikora/pembebasan Irian Barat.

Masa-masa SMA di ”Kota Lumpia”

Selepas menempuh pendidikan di SMP, pada tahun 1955 Pierre melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas bagian B (SMA/B) Semarang, yang berlokasi di Jalan Taman Menteri Supeno Nomor 1, Mugassari, Semarang Selatan.

Siswa-siswa lulusan SMA/B diarahkan untuk melanjutkan studi ke bidang kedokteran, teknik, atau ilmu pasti lainnya. Sekarang, SMA/B Semarang lebih dikenal dengan nama SMA Negeri 1 Semarang.

SMA/B Semarang pada masa Pierre sekolah terbagi menjadi SMA B1 dan SMA B2 yang menempati kompleks gedung sekolah yang sama. Pierre merupakan siswa SMA B1 dan ditempatkan di kelas 1-5. Selama tiga tahun pendidikan sekolah lanjutan atas ini, setiap kenaikan kelas, Pierre selalu bersama teman-teman yang sama dari kelas satu.

Pada masa SMA ini, banyak kisah menarik yang dituturkan keluarga atau rekan satu kelas Pierre.

Layaknya anak muda sebayanya, saat inilah bunga-bunga kehidupan tengah mekar, dan begitu juga yang dirasakan Pierre.

Seperti anak muda seusianya saat itu, Pierre sangat menggemari sepeda motor. A.L. Tendean membelikan Pierre sebuah sepeda motor Ducati berwarna hitam sebagai hadiah kenaikan tingkat ke SMA.

"Khusus untuk motor kebanggaannya ini, Pierre sendiri yang langsung turun tangan mencuci dan merawatnya. Tak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya," terangnya.

Pierre pernah mengendarai motor Ducati hitamnya ke daerah Demak untuk mendaki gunung. Namun, dalam perjalanan pulang, Pierre mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan lampu sorot motor Ducati-nya rusak.

Karena motor itu belum genap sebulan dimiliki, dan dibayangi oleh rasa takut akan hukuman disiplin dari sang ayah, Pierre memutuskan membawa pulang motor tersebut dan membungkus lampu itu dalam kantong plastik. Tentu saja meski sembunyi-sembunyi, peristiwa itu tetap ketahuan, dan Pierre tetap kena teguran ayahandanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement