Motor kesayangan ini pula yang setia ditunggangi Pierre selama masa SMA.
"Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Pierre selalu berpamitan kepada ibunda yang mengantar di teras rumah dengan melambaikan tangan dan lantang meneriakkan ”Adios” dari atas Ducati-nya," ungkapnya.
Pierre lulus SMA/B dengan nilai ujian rata-rata baik pada 5 Agustus 1958. Berdasarkan nilai yang didapat, Pierre sangat menonjol pada mata pelajaran Aljabar, Ilmu Ukur, dan Bahasa Inggris, yang masing-masing tertulis angka 9 di ijazah kelulusan SMA-nya. Nilai untuk sebagian besar mata pelajaran adalah 7, termasuk mata pelajaran Bahasa Jerman, Bahasa Indonesia, Fisika, Biologi, dan Ilmu Alam.
Namun, untuk mata pelajaran Kimia dan Geografi, Pierre hanya mendapat nilai 6, dan pastinya, Pierre tidak menikmati ilmu tata buku karena nilai untuk mata pelajaran ini di ijazah adalah 5.
Walaupun nilai kelulusannya pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani tergolong sedang, dengan angka rata-rata 7, faktanya kemampuan Pierre di bidang olahraga tetaplah menonjol. Ia merupakan pribadi yang senang berolahraga.
Pierre menguasai berbagai cabang olahraga, seperti tenis, bola basket, bola voli, dan menunggang kuda. Khusus untuk bola basket dan bola voli, ia merupakan bintang lapangan sehingga ia sangat dikenal di kalangan kawan-kawan sekolahnya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.