BAGI seorang Pierre Tendean (satu diantara pahlawan revolusi) menjadi taruna ini adalah hal yang sangat diidamkannya. Cita-cita menjadi seorang tentara telah dipendamnya sejak lama.
Hal ini dibenarkan oleh kakak sulung Pierre Tendean, Mitzi Farre, dan adik bungsunya, Rooswidiati. Semampu mereka mengingat, saudara lelaki mereka satu-satunya ini memang bercita-cita menjadi tentara sejak remaja.
(Baca juga: 43 Tahun Berdiri, Jalan Panjang Pembangunan Masjid Istiqlal di Tengah G30S/PKI)
"Menurut Roos, panggilan akrab Rooswidiati, kakaknya adalah seorang pria muda yang dipenuhi gairah patriotisme. Segala langkahnya diarahkan untuk membela republik yang saat itu masih berusia muda," kata Abie Besman,penulis dan editor buku "Piere Tendean Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi".
Sebenarnya keluarga tidak tahu persis proses kehidupan apa yang menggugah dan memotivasi Pierre dalam mewujudkan cita-cita itu.
(Baca juga: Gubernur Jenderal Batavia JP Coen Dibunuh Telik Sandi Mataram?)
Kemungkinan besar, menurut Roos, jiwa cinta dan bela Tanah Air yang pernah ditunjukkan ayah ibu mereka sewaktu mereka hidup di Magelang dulu, dengan sering menolong para gerilyawan pejuang perang kemerdekaan RI melalui suplai obat-obatan dan sumbangan dana, yang mengilhami Pierre untuk terjun ke dunia militer.
Mitzi mengemukakan kemungkinan lain, bahwa inspirasi menjadi tentara bisa jadi diperoleh dari perkenalan Pierre dengan Jenderal Nasution. Keluarga Nasution mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Tendean melalui garis keluarga dari pihak istri Nasution, Johanna Sunarti Gondokusumo, dengan ibunda Pierre, Maria Elizabeth Tendean.
Keluarga Gondokusumo dan keluarga Tendean sudah akrab jauh sebelum Sunarti dipersunting oleh Nasution pada tahun 1947.
Bahkan sebelum Pierre lahir, kedekatan keluarga mereka ditunjukkan dengan saling mengunjungi. Sunarti pernah menimang Pierre semasa kecil. Pierre tak ubahnya adalah kerabat dekat bagi keluarga Nasution.
"Jenderal Nasution bahkan pernah berucap dalam buku memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6, bahwa Pierre kemungkinan menjadi tentara karena pengaruh dirinya, mengingat kedua orangtuanya sangat tidak menyetujui pilihan Pierre untuk menjadi tentara," ungkap Abie.
Keinginan menjadi tentara ini pada awalnya mendapat tentangan dari kedua orangtua Pierre. Saat itu ia dihadapkan pada dua pilihan yang dianjurkan oleh kedua orangtuanya. A.L. Tendean menginginkan Pierre untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter dengan melanjutkan belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta, sementara Maria Elizabeth menyarankan agar Pierre melanjutkan sekolah ke Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kegundahan hatinya pun diutarakan Pierre kepada sang kakak, Mitzi. Ia bercerita bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang tentara, berkecimpung di dunia militer dan membela Republik Indonesia dalam berbagai palagan.
Hanya Mitzi anggota keluarga Tendean yang mendukung cita- cita Pierre ini. Sebagai jalan tengah, sang kakak menyarankan Pierre untuk mengikuti tes ujian masuk di kedua universitas tersebut agar tidak mengecewakan orangtuanya.
Pierre pun mengikuti saran sang kakak untuk mengikuti ujian tersebut, tetapi dengan satu syarat, yaitu ia tidak akan serius dalam mengerjakan soal ujian karena ia tetap ingin menjadi seorang tentara.
"Selama menempuh proses ujian di FKUI, Pierre menumpang tinggal di rumah Nasution di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Jakarta Pusat,"ujarnya.
Begitu besar keinginan A.L. Tendean agar anak lelakinya menjadi dokter seperti dirinya, ia pun sudah menghubungi Wakil Perdana Menteri II Republik Indonesia saat itu, yang juga seorang dokter, Johannes Leimena, dan Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Slamet Iman Santoso, untuk memberikan surat rekomendasi masuk sekolah kedokteran tertua di Indonesia itu kepada Pierre.
Namun, tekad Pierre untuk menjadi tentara lebih kuat. Pierre mengabaikan kedua tiket emas tersebut. Kecewa atas desakan yang gigih dari A.L. Tendean agar Pierre bisa menjadi dokter seperti dirinya, Pierre sempat ngedumel kepada Mitzi, dan menegaskan sekali lagi bahwa menjadi dokter itu bukan panggilan jiwanya.
Bersamaan dengan proses pencarian sekolahnya, pada 20 Juli 1958, Pierre pun harus pindah sementara ke Kota Bandung. Ketibaannya di Bandung ditandai dengan sepucuk surat yang ia kirimkan kepada keluarga di Semarang. Alamat yang tertera di sampul surat itu: Jalan Dederuk Nomor 32, Bandung.