Machhapuchhare, Puncak Perawan nan 'Sakral' di Pegunungan Himalaya

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 23 Februari 2021 06:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 18 2366597 machhapuchhare-puncak-perawan-nan-sakral-di-pegunungan-himalaya-ag9uBQhpIC.jpg Machhapuchhare adalah puncak gunung terindah (Foto: Neelima Vallangi)

NEPAL - Garis samar bebatuan dan salju raksasa berbentuk segitiga, diselimuti pusaran awan dan menjulang tinggi di atas lembah Pokhara yang terkenal di Nepal ini kerap mencuri hati banyak wisatawan.

Puncak gunung yang secara tidak sengaja menyita imajinasi ini bukanlah puncak Everest atau salah satu dari tujuh puncak lain di negara itu yang tingginya lebih dari 8.000 meter, tetapi puncak yang relatif rendah, namun keindahannya tak tertandingin.

Ternyata, saya bukan satu-satunya yang terobsesi dengan puncak ini. Beberapa dekade sebelum saya, seorang pria lain juga jatuh cinta dengan gunung ini - dan meninggalkan warisan yang agak unik.

Machhapuchhare - yang berarti "ekor ikan"- adalah gunung setinggi 6,993 meter yang ikonik di pegunungan Annapurna di Nepal, yang menjadi rumah bagi tiga dari sepuluh puncak tertinggi di dunia.

(Baca juga: Makna di Balik 'Revolusi 22222', Aksi Demonstrasi Terbesar Menentang Kudeta Militer Myanmar)

Namun, Machhapuchhare dengan mudah mencuri perhatian, berkat posisinya yang jauh dari puncak Annapurna yang jauh lebih tinggi.

Ia tampak berdiri sendirian dan tampak menjulang tinggi meskipun tingginya lebih rendah dari puncak gunung yang lain.

Posisi geografis puncak Machhapuchhare memberikan pemandangan yang berbeda dari beberapa tempat. Kemegahan relief vertikalnya yang menakjubkan tidak dapat dihindari dari sudut atau jarak mana pun.

(Baca juga: Kudeta Militer, Dunia Internasional Desak Myanmar Pulihkan Demokrasi)

Menjulang seperti menara kembar yang saling membelit, puncak ganda Machhapuchhare bergabung dengan punggung bukit yang tajam dan memiliki daya pikat yang sama besarnya dengan ujung segitiga simetris yang curam.

Tapi alasan Machhapuchhare tetap menjadi puncak perawan - demikian halnya ledakan trekking komersial dan pendakian gunung di Nepal saat ini - dapat dikaitkan dengan satu orang: Letnan Kolonel James Owen Merion Roberts (1916-1997).

Jimmy Roberts, begitu ia dikenal, adalah perwira Angkatan Darat Inggris yang terkenal atas kontribusinya terhadap pendakian gunung Nepal dan Himalaya yang sangat besar.

Roberts ditunjuk sebagai atase militer pertama di Nepal pada tahun 1958. Ia menggunakan posisinya, semangat dan pengetahuannya tentang Himalaya untuk membuka pegunungan terpencil di negara itu dalam pendakian gunung dan trekking komersial, sebuah industri yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Nepal dan mata pencaharian warga lokal.

Ia tidak hanya memelopori zaman keemasan penjelajahan Himalaya, tetapi juga membuat keindahannya dapat diakses oleh seluruh dunia ketika ia mendirikan agen trekking pertama di negara itu, bernama Mountain Travel pada tahun 1964.

Ia bahkan mengooptasi dan mempopulerkan istilah "trek", yang menjadi identik dengan pendakian di Himalaya saat ini. Oleh karenanya, ia dikenang sebagai "bapak trekking" di Nepal.

Ketertarikan Roberts pada Pokhara dan Machhapuchhare dimulai setelah membaca kiriman dari Nepal yang ditulis pada tahun 1936 oleh seorang perwira militer, yang menulis tentang gunung dan kota yang aneh di tepi danau.

"Melihat Pokhara dan Machapuchare dan desa-desa tempat orang-orang saya tinggal, dan terutama Gurung [salah satu suku utama Gurkha di Himalaya] segera menjadi obsesi saya," tulis Roberts dalam kata pengantar buku "Climbing the Fish's Tail" karya Wilfrid Noyce.

Tapi pada masa itu, pedalaman Nepal adalah tanah terlarang, lebih tertutup ketimbang Mekah atau Lhasa di masa kejayaan mereka.

Pada tahun 1950, ia akhirnya melihat gunung kesayangannya dari jarak dekat.

"Saya adalah orang Inggris pertama yang memasuki Mekkah [Pokhara] pribadi saya. Ada Machhapuchhare yang bersinar di bawah sinar bulan, sebuah piramida putih besar yang sangat menyendiri," tulisnya tentang pertemuan pentingnya dengan sang gunung.

"Jadi Machhapuchhare bagi saya adalah sebuah gunung yang ideal, milik pribadi namun keluar dari dunia ini, tidak dapat dicapai tetapi milik saya dengan hak yang tidak logis, mengerami sebuah negara dan orang-orang yang akan membentuk sisa hidup saya,” ungkapnya.

Pada tahun 1957, setelah lebih dari 20 tahun terpaku pada Machhapuchhare, Roberts menyelenggarakan ekspedisi pertama ke puncak gunung (dipimpin oleh Noyce dan diikuti oleh beberapa pendaki lainnya), yang belum didaki secara resmi hingga saat itu.

Satu hal yang menonjol dalam catatan Noyce tentang pendakian ini adalah Roberts dengan mudah melepaskan impian untuk mencapai puncaknya ketika masalah logistik memaksa tim pendaki dibagi menjadi dua.

Roberts menawarkan diri untuk membawa tim pendukung sementara Noyce dan pendaki lainnya melanjutkan pendakian ke puncak terakhir.

Mereka juga pada akhirnya berhenti mendaki lebih tinggi lagi, hanya 45 meter di bawah puncak, karena cuaca buruk.

Setelah ekspedisi, Roberts mengajukan permintaan yang agak tidak biasa kepada pemerintah Nepal: agar puncaknya menjadi hal terlarang dan dengan demikian menjadikan Machhapuchhare sebagai puncak Himalaya yang akan tetap tidak didaki selamanya.

Secara mengejutkan, pemerintah Nepal menuruti permintaan tersebut.

Lisa Choegyal, seorang penulis dan veteran pebisnis industri pariwisata yang berbasis di Nepal yang mengenal Roberts secara pribadi sejak 1974, mengatakan kepada saya, "Jimmy bukanlah pendaki gunung dengan ego yang besar,” ujarnya.

"Puncak Machhapuchhare tidak dimaksudkan untuk diinjak; itu hanya untuk dipuja oleh mata," kata Tirtha Shrestha, seorang penyair yang lama tinggal di Pokhara, menjelaskan bahwa penduduk setempat berpandangan bahwa Machhapuchhare tidak boleh dibuka untuk pendakian.

"Setiap wacana, tidak hanya tentang Pokhara, tetapi tentang keindahan seluruh Himalaya, tidak akan lengkap tanpa menyebut Machhapuchhare. Keindahannya telah sangat menyentuh hati para penyair, penulis, dan seniman. Dalam banyak lagu rakyat, gunung itu telah dihujani dengan pujian. Machhapuchhare , bagi kami, adalah lambang keindahan," urainya.

Meskipun tidak pernah jelas mengapa Roberts ingin puncak itu tetap terlarang selamanya, terutama setelah ia sendiri mencoba mendaki sekali dan berada sangat dekat, tapisulit untuk menemukan kesalahan dalam langkah Roberts. Apalagi jika hal ini merujuk ke berapa banyak tempat yang telah dirusak oleh pariwisata pendakian gunung komersial yang berlebihan.

"Meskipun dalam kasus ini, kedengarannya seperti keangkuhan jika dia tidak bisa memanjatnya, dia tidak ingin orang lain memanjatnya. Tapi itu tidak benar-benar mewakili karakter yang sangat lembut dalam kehidupan nyata,” lanjutnya.

Roberts merasakan hubungan kekerabatan yang kuat dengan para Gurung, yang menganggap Machhapuchhare adalah puncak suci.

Selain itu, warga yang tinggal di Chomrong, desa Gurung terakhir sebelum Machhapuchhare, tidak terlalu senang dengan pendaki asing yang mencoba mendaki.

Kendati beberapa gunung dianggap sakral bagi beberapa komunitas di Nepal, itu tidak menghentikan langkah pemerintah mengeluarkan izin pendakian, juga tidak menghentikan Roberts mendaki gunung lain.

Tapi mungkin karena kecintaannya pada orang-orang Gurung dan pesonanya yang tak tergoyahkan dengan gunung itulah yang menyebabkan permintaan Roberts yang tidak biasa.

Kendati demikian, bagaimana Roberts berhasil membuat pemerintah Nepal setuju dengan permintaannya tetap menjadi teka-teki hingga kini.

Namun, sentimen tersebut tampaknya beresonansi dengan baik, dengan penerimaan luas di Nepal bahwa puncak perawan itu ilegal untuk didaki.

Faktanya, asosiasi Roberts dengan puncak terlarang sebagian besar telah dilupakan.

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, "Dia biasa tersenyum mengatakan, 'Sangat menyenangkan bahwa mereka masih mengikuti nasihat saya bahwa puncak harus tetap sakral.' Dan saat itu sudah diterima secara umum bahwa itu sakral," kata Choegyal.

Saat ini pemandangan yang umum adalah bahwa gunung itu suci dan karenanya terlarang.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini