Perusahaan Pertambangan Menyesal Hancurkan Situs Keramat

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 25 Februari 2021 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 18 2367954 perusahaan-pertambangan-menyesal-hancurkan-situs-keramat-u6XSGMEi6L.jpg Perusahaan pertambangan menyesal menghancurkan situs bersejarah (Foto: Reuters)

AUSTRALIA - Sebuah perusahaan pertambangan di Australia menyesal telah menghancurkan situs bersejarah utama suku Aborigin di bagian barat negara itu tanpa mengikuti prosedur yang tepat.

Grup Logam Fortescue seharusnya mengembangkan situs para tetua komunitas yang akan menyelamatkan artefak dan melakukan upacara budaya.

Tetapi pekerjaan untuk memperluas tambang bijih besi berjalan tanpa pengawasan yang tepat, sehingga perusahaan menyebutnya sebagai "kesalahan administratif".

Insiden terbaru ini terjadi di daerah Weelumurra Creek terjadi meskipun ada kesepakatan jika tetua masyarakat Wintawari Guruma harus hadir saat situs tersebut dikembangkan.

Tetapi Kepala eksekutif Fortescue Elizabeth Gaines mengatakan pekerjaan itu telah dilakukan lebih awal dari yang dijadwalkan.

(Baca juga: Pengguna Google Maps Ketakutan Temukan Sisa-sisa Kerangka dan Borgol di Dekat Situs Chernobyl)

"Saya telah berbicara dengan Ketua Perusahaan Aborigin Wintawari Guruma (WGAC) Glen Camille mengenai insiden ini untuk secara pribadi mengungkapkan penyesalan dan permintaan maaf saya yang tulus atas nama Fortescue," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Kami telah melakukan penyelidikan penuh atas masalah yang menunjukkan bahwa sayangnya hal ini terjadi sebagai akibat dari kesalahan administratif ... Kami telah menghentikan sementara semua pekerjaan kliring di situs ini saat kami bekerja dengan WGAC terkait masalah tersebut,” lanjutnya.

Menurut kantor berita Reuters, Camille mendesak pemerintah Australia Barat untuk menuntut perusahaan tersebut. Pemerintah mengatakan masalah itu sedang diselidiki.

(Baca juga: Desa Ini Dipenuhi 3.000 Janda, Suami Mereka Tewas Diterkam Harimau)

 Perusahaan pertambangan diketahui berada di bawah tekanan untuk meningkatkan pengelolaan situs adat.

Awal pekan ini, perusahaan tambang lain, BHP, mengatakan sedang menyelidiki jatuhnya batu di Pilbara, Australia Barat, yang merusak situs keramat. Situs itu bukan bagian dari operasi penambangan aktif.

Tahun lalu Rio Tinto diperintahkan untuk membangun kembali sistem gua Aborigin kuno yang meledak di negara bagian yang sama pada bulan Mei tahun lalu.

Insiden di Jurang Juukan itu menyebabkan pengunduran diri kepala eksekutif perusahaan dan anggota staf senior lainnya.

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini