Sebagian Hutan Amazan Seluas 1.000 Lapangan Bola Dijual di Facebook

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 28 Februari 2021 09:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 18 2369620 sebagian-hutan-amazan-seluas-1-000-lapangan-bola-dijual-di-facebook-sKqlLpHEfC.jpg Hutan Amazon (foto: BBC)

BRAZILKawasan hutan Amazon di Brazil diduga dijual secara ilegal di Facebook. Kawasan lindung tersebut meliputi hutan nasional dan lahan yang dilindungi untuk masyarakat adat.

Sebagaimana ditemukan BBC, beberapa plot yang diiklankan melalui layanan iklan baris Facebook adalah hutan amazon terebut seluas 1000 lapangan sepak bola.

Facebook mengatakan pihaknya "siap untuk bekerja dengan otoritas lokal", tetapi mengindikasikan tidak akan mengambil tindakan independen untuk menghentikan perdagangan itu.

"Kebijakan perdagangan kami mengharuskan pembeli dan penjual untuk mematuhi hukum dan peraturan," kata perusahaan teknologi yang berbasis di California itu.

Baca Juga: Perempuan Ini "Pahlawan Lingkungan" Amazon, Lindungi 500.000 Hektare Hutan dari Pengeboran Minyak

Pemimpin salah satu komunitas adat yang terkena dampak mendesak perusahaan teknologi tersebut untuk berbuat lebih banyak.

Juru kampanye telah mengklaim pemerintah negara itu tidak mau menghentikan penjualan. "Mereka yang menginvasi tanah merasa sangat berdaya sampai-sampai mereka tidak malu menggunakan Facebook untuk membuat kesepakatan tanah ilegal," kata Ivaneide Bandeira, kepala LSM lingkungan Kanindé.

Baca Juga: Foto-Foto NASA Ungkap "Sungai Emas" di Amazon 

Tidak Ada Sertifikat

Siapapun dapat menemukan plot yang dijual secara ilegal dengan mengetikkan padanan bahasa Portugis untuk istilah pencarian seperti "hutan", "hutan adat" dan "kayu" ke dalam alat pencarian Facebook Marketplace, dan memilih salah satu negara bagian Amazon sebagai lokasi.

Beberapa daftar menampilkan citra satelit dan koordinat GPS. Banyak penjual secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak memiliki hak atas tanah, satu-satunya dokumen yang membuktikan kepemilikan tanah berdasarkan hukum Brasil. Kegiatan ilegal tersebut dipicu oleh industri peternakan sapi Brasil.

Hutan Amazon Brazil 

'Tidak Ada Risiko'

Deforestasi di Amazon Brasil mencapai titik tertinggi dalam 10 tahun dan Facebook telah menjadi situs yang dituju penjual seperti Fabricio Guimarães, yang difilmkan oleh kamera tersembunyi.

"Tidak ada risiko pemeriksaan oleh agen negara di sini," katanya saat berjalan melalui sepetak hutan hujan yang telah dibakar hingga rata dengan tanah.

Dengan lahan yang dibuka secara ilegal dan siap digunakan untuk bertani, dia telah melipatgandakan permintaan awalnya menjadi $35.000 (kurang lebih Rp500 juta).

Fabricio bukanlah seorang petani. Dia adalah pekerja kelas menengah di kota dan memandang hutan hujan sebagai peluang investasi.

BBC kemudian menghubungi Fabricio untuk tanggapannya atas penyelidikan ini, tetapi dia menolak berkomentar.

Menyamar

Banyak iklan datang dari Rondônia, negara bagian yang paling gundul di kawasan hutan hujan Brasil.

BBC mengatur pertemuan antara empat penjual dari negara bagian dan seorang agen rahasia yang menyamar sebagai pengacara yang mengaku mewakili investor kaya.

Seorang pria, bernama Alvim Souza Alves, mencoba untuk menjual sebidang tanah di dalam cagar alam asli Uru Eu Wau Wau seharga sekitar £16.400 (Rp323 juta) dalam mata uang lokal.

Ini adalah rumah bagi komunitas Uru Eu Wau Wau, yang memiliki lebih dari 200 anggota. Daerah itu juga rumah bagi setidaknya lima kelompok lain yang tidak memiliki kontak dengan dunia luar, menurut pemerintah Brasil.

Namun pada pertemuan tersebut, Alves mengklaim: "Tidak ada orang Indian [sic] di sana. Dari tempat saya berada, mereka berjarak sejauh 50 km. Saya tidak akan memberi tahu Anda bahwa mereka tak berjalan-jalan di daerah itu sewaktu-waktu."

BBC menunjukkan iklan Facebook kepada pemimpin komunitas Bitaté Uru Eu Wau Wau.

Dia mengatakan, tanah itu berada di daerah yang digunakan oleh komunitasnya untuk berburu, memancing, dan mengumpulkan buah-buahan, Ini tindakan yang tak menghormati komunitas kami, katanya.

"Saya tidak kenal orang-orang ini. Saya pikir tujuan mereka adalah untuk menebang habis hutan adat, untuk menebang habis apa yang ada. Untuk menebang habis hidup kami, bisa dibilang."

Dia mengatakan pihak berwenang harus turun tangan dan ia juga mendesak Facebook - "platform media sosial yang paling banyak diakses" - untuk mengambil tindakan sendiri.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini