Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perjuangan Pasukan Khusus Berjibaku Menjaga Terang di Tengah Banjir Semarang

Taufik Budi , Jurnalis-Minggu, 28 Februari 2021 |18:16 WIB
Perjuangan Pasukan Khusus Berjibaku Menjaga Terang di Tengah Banjir Semarang
Foto: Taufik Budi
A
A
A

SEMARANG – Sengatan listrik jadi salah momok yang menakutkan saat banjir menerjang. Begitu juga yang terjadi di Kota Semarang. Saat banjir melanda, 3 orang meninggal dunia akibat tersengat listrik.

Dua orang tewas ketika banjir yang terjadi pada 6 Februari, yakni di Semarang Utara dan Semarang Timur. Korban jiwa kembali terjadi pada 26 Februari, yakni seorang pengguna jalan tersengat listrik tiang lampu penerangan jalan umum (LPJU) di Jalan Raya Kaligawe.

Aliran listrik tidak diputus total agar aktivitas warga masih berjalan. Pemadaman dilakukan setelah petugas PLN memastikan jaringan di lokasi tak aman. Sebab jika dilakukan pemadaman menyeluruh akan menghambat aktivitas masyarakat dan banjir protes di media sosial.

“Sekadar info kondisi terkini Parang Barong VII Tlogosari, koyo kota mati. Banjir dan listrik mati,” ungkap seorang warga melalui grup percakapan.

Manajer PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Semarang, Donny Ardiansyah mengatakan, memiliki tim khusus yang bersiaga selama cuaca ekstrem. Pasukan itu tergabung melalui Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) yang bersiaga dan bertugas 24 jam penuh.

Baca juga: Hancur Diterjang Banjir, Warga Minta Jembatan di Cipinang Melayu Diperbaiki

“Kemarin kita terjunkan 3 tim, karena kita dibantu dari Demak dan Salatiga. Kita dari Semarang ada 12 orang, lalu ditambah dari Demak dan Salatiga masing-masing 8 personel, sehingga total ada 28 personel,” kata Donny, Minggu (28/2/2021).

Dia mengatakan, penambahan personel PDKB sangat diperlukan mengingat intensitas hujan sangat tinggi pada awal Februari. Bertepatan dengan program Jateng di Rumah Saja yang dicetuskan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, banjir besar menerjang Semarang pada 6 - 7 Februari. 

Foto: Taufik Budi

“Mereka (petugas dari Demak dan Salatiga) ini melakukan backup, membantu kita untuk terjun di Semarang. Sebab, di awal-awal Februari tepatnya tanggal 6 - 7, cuaca ekstrem. Mereka selama empat hari membantu melakukan recovery daerah-daerah yang padam (listrik) agar kembali terang,” katanya. 

Selain tingginya curah hujan, banjir juga diperparah dengan gelombang pasang air laut. Akibatnya sejumlah sungai meluap, hingga airnya melimpas ke jalan. Pompa-pompa yang dioperasikan tak berdaya mengatasi gelontoran banjir. Diperburuk dengan sedimentasi di drainase hingga banjir tak mudah surut.

“Tanggal 6 dan 7 Februari itu luar biasa (banjirnya). Beberapa wilayah terdampak banjir, termasuk di Terboyo, Tlogosari, kemudian Semarang Barat ada di Puri Anjasmoro, Semarang Indah, termasuk Madukoro,” katanya.

Baca juga: Aksi Penyelamatan Ibu dan Bayi yang Baru Dilahirkan dari Banjir di Lumajang Berlangsung Dramatis

“Jadi kita bagi-bagi tim (PDKB) ke lokasi-lokasi terdampak banjir. Untuk meng-cover minimal pengamanan dulu. Ketika terjadi banjir, memang kita mengutamakan keselamatan masyarakat dan lingkungan, itu paling utama,” terangnya.

Petugas yang dilengkapi sepatu boot, helm, hingga rompi berwarna jingga menerobos genangan banjir. Tak mudah menuju lokasi, karena genangan banjir di beberapa titik mencapai lebih dari satu meter. Truk operasional tak bisa menembus lokasi, hingga petugas harus berjalan kaki.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement