Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Covid-19 Renggut "Pria Terakhir" Suku Juma, Suku Asli Amazon

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 03 Maret 2021 |06:34 WIB
Covid-19 Renggut
Pria terakhir Suku Juma di Hutan Amazon meninggal karena Covid-19 (Foto: Gabriel Uchida/Kaninde)
A
A
A

BRASIL - Pria terakhir suku Juma di hutan Amazonbras, Brasil, meninggal setelah tertular Covid-19.

Kematian Aruká baru-baru ini merupakan pukulan bagi suku asli di "Negeri Samba" itu, yang jumlahnya menurun drastis dari sekitar 15.000 orang pada awal abad ke-20 menjadi hanya enam orang pada 1990an.

Aruká adalah pria terakhir suku itu. Menurut wartawan BBC News Brasil, Juliana Gragnani, cucu-cucunya mengambil langkah yang tak biasa untuk menjaga warisannya.

Tak ada yang tahu persis berapa umur sebenarnya Aruká, namun diperkirakan antara 86-90 tahun.

Selama hidupnya, Aruká menyaksikan bagaimana komunitas Juma yang tadinya berjumlah ribuan orang terus mengecil, dari yang sebelumnya tersebar memancing, berburu dan menanam di wilayah selatan negara bagian Amazonas.

(Baca juga: Nigeria Terima 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Melalui COVAX)

Menyusul serangkaian pembantaian yang dilakukan oleh para penyadap karet, serta penyebaran penyakit-penyakit mematikan, jumlah komunitas Juma menyusut hingga hanya tinggal keluarga Aruká yang tersisa.

"Dia selalu berbicara dengan sedih tentang bagaimana di masa lalu ada banyak orang Juma, dan bagaimana sekarang dia adalah orang terakhir yang tersisa," kenang Gabriel Uchida, seorang fotografer yang telah mendokumentasikan kehidupan komunitas Juma.

Aruká memiliki tiga anak perempuan. Namun, dengan komunitas Juma yang sudah tiada saat mereka dewasa, ketiga perempuan itu masing-masing menikahi laki-laki dari kelompok adat Uru-eu-wau-wau.

Menurut sistem patrilineal komunitas-komunitas itu, para cucu dan cicit Aruká dianggap sebagai bagian dari kelompok ayah mereka, dan bukan dari ibu.

(Baca juga: Pria Bersenjata Bunuh 3 Pekerja Media Perempuan)

Namun, memilih untuk menyimpang dari tradisi, beberapa cucu Aruká memutuskan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota kedua komunitas itu sekaligus, yakni sebagai Uru-eu-wau-wau dan sebagai Juma.

"Kami akan melanjutkan tradisi masyarakat kami," Bitaté Uru-eu-wau-wau, 20.

"Dia bersama kita, tinggal bersama kita, dan mewakili rakyat kita melalui cucu dan cicit di masa depan yang akan datang," kata Bitaté tentang mendiang kakeknya.

Sepupu Bitaté yang berusia 18 tahun, Kuaimbú, mengatakan hal senada. "Kami tidak ingin perjuangan rakyat kami dilupakan. Kami bangga dengan perjuangan kakek dan ibu kami, dan kami ingin melanjutkannya,” terangnya.

Kuaimbú mengikutsertakan nama belakang kakeknya ke dalam namanya sendiri dan menyebut dirinya Kuaimbú Juma Uru-eu-wau-wau, perubahan yang rencananya akan segera diresmikan sehingga juga tercermin dalam kartu identitasnya.

"Saya adalah cucu Juma, anak Juma. Saya berhak memiliki Juma pada nama saya," jelasnya.

Aktivis hak-hak adat, Ivaneide Bandeira, mengatakan memasukkan "Juma" ke dalam nama belakang adalah langkah yang belum pernah dia lihat di kelompok adat patrilineal lainnya.

"Ini adalah pesan dari para cucu bahwa mereka ada di sini untuk menetap dan mereka melawan," jelas Bandeira, dari Asosiasi Perlindungan Lingkungan-Etno Kanindé.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement