KBRI Yangon: Myanmar Siaga II, Hindari Bepergian Termasuk ke Tempat Kerja

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 04 Maret 2021 21:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 18 2372559 kbri-yangon-myanmar-siaga-ii-hindari-bepergian-termasuk-ke-tempat-kerja-FaSBLj1lhd.jpg Ilustrasi (Foto : Reuters)

JAKARTA - KBRI Yangon, Myanmar, menetapkan status siaga II terkait situasi terkini di negeri yang tengah mengalami kudeta militer tersebut.

"Memperhatikan perkembangan situasi terakhir dan sesuai rencana kontingensi, saat ini KBRI Yangon menetapkan status Siaga II. Dalam hal ini, KBRI telah sampaikan imbauan agar WNI tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak," ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Myanmar Iza Fadri dalam keterangannya yang diterima Okezone, Kamis (4/3/2021).

Ia mengatakan saat ini total ada 441 WNI yang terdaftar di KBRI. Untuk WNI yang tidak memiliki pekerjaan dan keperluan genting, dirinya pun meminta agar kembali ke Tanah Air.

"Sedangkan bagi WNI beserta keluarganya yang tidak memiliki keperluan dan pekerjaan yang esensial, dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan penerbangan kembali ke Indonesia yang saat ini masih tersedia," tuturnya.

Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Yangon terus memantau perkembangan situasi di Myanmar. "Kemlu dan KBRI Yangon terus memantau perkembangan situasi di Myanmar. Saat ini dipandang belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI," ujarnya.

Baca Juga : Kisah Angel, Gadis Cantik dan Pemberani yang Tewas dalam Demonstrasi Anti-Kudeta Myanmar

Sebelumnya diberitakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan aksi demonstrasi anti-kudeta militer sebagai "hari paling berdarah" pada Rabu 3 Maret 2021, sejak kudeta terjadi sebulan lalu.

Sedikitnya 38 orang meninggal di Myanmar yang terhitung hingga kemarin, dalam rangkaian bentrokan demonstrasi anti-kudeta militer antara aparat keamanan dan demonstran. Utusan khusus sekjen PBB untuk Myanmar, Christina Schraner-Burgene, mengatakan, Rabu 3 Maret adalah hari yang paling berdarah.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini