Sebelumnya, ayah tiga orang putra ini bekerja di sebuah pabrik sejak1997. Lalu, pabrik tempatnya bekerja akan pindah ke kota kecil, Lamongan. Besaran Upah Minimum Regional (UMR) yang jauh berbeda membuat Joni, panggilan akrabnya berpikir ulang untuk tetap bekerja di sana.
“Kalau pindah ke sana kan UMR-nya lebih sedikit. Hitungan saya dengan adanya tiga orang anak, saya pikir tidak akan cukup. Akhirnya saya coba daftar di Grab di akhir-akhir sebelum pabrik pindah,” tuturnya.
Keputusan Joni mendapat dukungan dari keluarga dan teman-temannya yang lebih dulu memutuskan untuk keluar dari pabrik dan lebih memilih menjadi mitra pengemudi. Saat Joni menanyakan perihal pekerjaan lain yang dapat dikerjakannya setelah pabrik pindah, teman-temannya justru menyarankan untuk turut bergabung menjadi mitra pengemudi Grab.
“Sebelumnya dia tanya saya, surat-surat saya lengkap atau tidak, kemudian dia yang bantu saya untuk daftar,” ujarnya.
Mulanya, Joni sama sekali tidak tahu cara kerja menjadi mitra pengemudi Grab. Yang ia tahu hanya bertugas mengantar penumpangnya. Pernah suatu ketika, ia telah selesai mengantar penumpangnya ke lokasi tujuan. Namun, ia tidak menyelesaikan order di aplikasinya. Alhasil, Joni harus kembali lagi ke tempat ia menurunkan penumpangnya tadi.
“Saya bilang ke kawan-kawan, kemudian diberitahu caranya, jika sudah terima, antar, baru selesaikan. Karena kalau tidak diselesaikan sesuai titik dikira tidak menyelesaikan pekerjaan. Karena saya masih belajar, akhirnya kawan-kawan terus membantu memantau saya selama satu bulan,” kenangnya.
Hingga pabrik resmi pindah ke Lamongan, Joni memutuskan untuk bekerja full time menjadi mitra pengemudi Grab. Menurutnya, hasilnya tidak hanya lumayan tetapi sangat cukup untuk menafkahi keluarganya.
“Sampai-sampai teman saya bilang senang dan bangga sekali bisa mendaftarkan saya menjadi mitra pengemudi,” katanya. Dalam satu hari, Joni bisa mendapatkan uang ratusan ribu rupiah Bahkan, Joni mampu menempuh sampai 28 trip tergantung jarak jauh dan dekatnya trip.
Joni pun memutuskan untuk bekerja penuh satu minggu. Biasanya, Joni akan mulai berangkat memburu penumpang setiap pukul 06.00 pagi dengan catatan sebelumnya ia telah pulang ke rumahnya pukul 12.00 malam.
“Sekaligus menjaga kondisi badan. Karena kalau sudah bekerja full seharian nonstop, akan muncul notifikasi Anda perlu istirahat. Jika sudah muncul notifikasi ini maka saya harus istirahat. Karena saya sudah terlalu banyak berjalan, kalau dipaksakan percuma, tidak akan diberi order meskipun keliling. Mungkin menurut pantauan mereka saya sudah terlalu banyak berjalan dan tidak ada habisnya. Aplikasi ini bagus untuk menjaga kesehatan mitra driver,” ucapnya.
Berkat semangat dan kerja kerasnya ini, Joni akhirnya menyabet Juara Cepat dalam Operasi Cepat Juara Kota. Tentunya hal ini tidak lepas dari kegigihan Joni untuk mendapatkan perjalanan terbanyak. Selain itu, menjadi mitra GrabBike juga sangat membantu keluarga Joni, terutama untuk uang sekolah anak-anak dan kebutuhan rumah tangga.

Foto: Dok.Grab Indonesia