Pemberontakan Ra Kuti didasari rasa tidak puas atas keputusan raja. Ra Kuti dan beberapa Dharmaputra lainnya menilai Raja Jayanagara berkarakter lemah dan mudah dipengaruhi.
Kitab Pararaton menyebut Raja Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah" atau “jahat".
Baca juga: Gayatri Rajapatni, Kisah Kecantikan Putri Majapahit Bagai Cleopatra
Selain itu alasan keturunan Jayamegara membuat para Dharmaputra tidak suka. Meski ditunjuk sebagai putra mahkota, Jayanagara bukan anak Raden Wijaya dari istri permaisuri, melainkan dari istri selir.
Ibunda Jayanagara adalah Dara Petak, putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera. Putri ini dibawa dari Ekspedisi Pamalayu, era Kerajaan Singasari pada 1275 hingga 1286 M. Jadi Jayanegara berdarah campuran, bukan turunan murni dari Kertanagara.
Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit. Kudeta yang dilakukan Ra Kuti berhasil menguasai keraton Majapahit di Trowulan.
"Jayanegara sekeluarga berhasil melarikan diri dengan dikawal para prajurit bhayangkara yang dipimpin seorang bekel bernama Gajah Mada. Jayanegara diamankan di desa Bedander," jelas PNA Mas'ud Thoyib Jayakarta Adiningrat, Budayawan yang juga Pengageng Kedaton Jayakarta.