Hendak Liput Kasus Pemerkosaan, Jurnalis Muslim Dipenjara dan Disiksa

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 10 Maret 2021 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 18 2375291 hendak-liput-kasus-pemerkosaan-jurnalis-muslim-dipenjara-dan-disiksa-NzbtSGHnpx.jpg Jurnalis muslim dipenjara dan disiksa (Foto: Shaheen Abdulla)

INDIA - Sidhique Kappan, seorang jurnalis berusia 41 tahun untuk portal berita berbahasa Malayalam Azhimukham, diketahui berangkat ke Bhulgarhi, melakukan perjalanan dari New Delhi, India tempat dia tinggal selama sembilan tahun.

Kappan ditangkap bersama tiga pria lainnya di dalam mobil sekitar 42 kilometer dari Hathras. Ahad lalu adalah hari ke-150 dia ditahan.

Di tahanan polisi malam itu - menurut keterangan yang dia berikan kepada keluarga dan pengacaranya - Kappan "diseret dan dipukuli dengan pentungan, ditampar mukanya, dipaksa untuk tetap terjaga dari pukul enam sore sampai pukul enam pagi dengan dalih diinterogasi dan ia menjadi subjek penyiksaan mental yang serius".

Dia juga tidak diberi pengobatan meskipun menderita diabetes. Namun polisi membantah semua tuduhan.

Mereka mengatakan mereka menangkap Kappan karena dia pergi ke Hathras "sebagai bagian dari konspirasi untuk menciptakan masalah hukum dan ketertiban, juga memicu kerusuhan antarkasta".

Tiga pria lainnya di dalam mobil tersebut dituduh melakukan pelanggaran serupa.

(Baca juga: Kerajaan Bisnis Misterius dan Menggurita Sokong Kudeta Militer Myanmar)

Polisi mengatakan mereka adalah anggota Front Populer India (PFI) - sebuah organisasi Muslim garis keras yang berbasis di Kerala, yang sering dituduh pihak berwenang memiliki hubungan dengan kelompok ekstrem.

Pemerintah Uttar Pradesh ingin organisasi itu dilarang.

Mereka mengatakan bahwa Kappan "berpura-pura menjadi jurnalis dari sebuah surat kabar yang sudah tidak beroperasi dan ia disebut sebagai anggota PFI".

Klaim ini dibantah oleh Kerala Union of Working Journalists, pengacara Kappan, dan PFI.

Serikat wartawan, organisasi yang diurus Kappan, menuduh polisi Uttar Pradesh membuat "pernyataan yang benar-benar salah dan tidak benar" dan menyebut penahanannya "ilegal".

Serikat pekerja bersikeras bahwa Kappan "hanya seorang jurnalis" dan "berusaha mengunjungi Hathras untuk melaksanakan tugas jurnalistiknya".

(Baca juga: FBI Rilis Video Tersangka Pengebom di Kerusuhan Capitol)

Kappan diketahui akan meliput kasus pemerkosaan dan kematian perempuan muda di Hathras itu, terutama setelah pihak berwenang mengkremasi tubuhnya di tengah malam, sehingga keluarga dan media tidak bisa memantau pemakamannya.

Serikat pekerja telah mengajukan petisi ke Mahkamah Agung untuk meminta pembebasannya.

Atasan Kappan, Azhimukham, juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa dia digaji perusahaan dan akan pergi ke Hathras untuk melakukan peliputan.

Pengacara Wills Mathews, yang mewakili Kappan dan serikat jurnalis, mengatakan kepada BBC bahwa awalnya kliennya dituduh melakukan pelanggaran ringan dan dia bisa saja tak ditahan asal memberi jaminan.

Tetapi dua hari kemudian, polisi menuduh Kappan melakukan penghasutan dengan menggunakan Undang-Undang Pencegahan Kegiatan Melanggar Hukum (UAPA), undang-undang antiterorisme yang membuat sistem penjaminan hampir tidak mungkin dilakukan.

Mathews mengatakan kliennya "100% netral, jurnalis independen".

"Berbagi taksi dengan beberapa orang tidak membuatnya bersalah," katanya.

"Seorang jurnalis harus bertemu orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang dituduh melakukan kejahatan dan hanya berada di dekat tertuduh lain tidak bisa menjadi alasan dia untuk ditangkap," tambah Matthews.

Menurut dokumen pengadilan, selama berminggu-minggu setelah penangkapannya, Kappan tidak diizinkan berhubungan dengan dunia luar.

Dia diizinkan untuk melakukan panggilan telepon pertama ke keluarganya pada 2 November 2020, 29 hari setelah penangkapannya, dan dia berbicara dengan istrinya delapan hari setelah itu.

Mathews diizinkan untuk bertemu dengan sang istri setelah 47 hari ia ditahan, setelah dia mengajukan petisi ke Mahkamah Agung.

Kemudian bulan lalu, Mahkamah Agung memberinya jaminan sementara lima hari bagi Kappan untuk mengunjungi ibunya yang berusia 90 tahun, yang tengah terbaring di tempat tidur dan sakit-sakitan.

Selama empat hari dia berada di sana, enam polisi dari Uttar Pradesh dan dua lusin dari negara bagian berjaga-jaga di luar rumah.

Sementara itu, sang istri Kappan, Raihanath, mengaku dirinya tidak yakin bahwa suaminya masih hidup sampai akhirnya sang suami meneleponnya pada 2 November tahun lalu.

Dia juga mengatakan kunjungan snag suami ke ibunya merupakan kunjungan yang berat.

"Dia sangat khawatir dengan kesehatan ibunya yang memburuk, dia juga mengkhawatirkan keuangan kami dan masa depan ketiga anak kami," katanya.

Dia menegaskan suaminya tidak melakukan kesalahan dan percaya dia telah menjadi sasaran karena dia seorang Muslim.

Menurut Raihanath, polisi berulang kali bertanya kepada suaminya apakah dia makan daging (bagi pemeluk Hindu sapi adalah binatang yang suci dan dalam beberapa tahun terakhir, Muslim menjadi sasaran karena makan daging atau mengangkut sapi).

Dia berkata bahwa mereka menanyai suaminya tentang berapa kali dia bertemu dengan Dr. Zakir Naik, seorang dai kontroversial yang dituduh melakukan ujaran kebencian dan pencucian uang.

Kappan juga ditanyai mengapa Muslim bersimpati dengan Dalit, yang sebelumnya disebut sebagai kelompok yang paling terpinggirkan.

Abhilash MR, seorang pengacara Senior Mahkamah Agung, mengatakan kepada saya, "Jika seseorang mengatakan penangkapan Sidhique Kappan adalah Islamofobia, saya akan mendukung pendapat itu".

Abhilash, yang mengatakan dia telah mengikuti kasus ini dengan cermat, menyebutnya sebagai "perburuan penyihir politik" dan "kasus penganiayaan politik". "Hak-hak fundamental Kappan sedang diinjak-injak", katanya.

Para kritikus menuduh pemerintah saat ini di Uttar Pradesh, yang dipimpin oleh biksu Hindu kontroversial berjubah oranye, Yogi Adityanath, telah secara tidak adil menargetkan Muslim.

Yogi Adityanath digambarkan sebagai politisi paling memecah belah dan kejam di India dan dituduh menggunakan kampanye pemilihannya untuk mengobarkan histeria anti-Muslim.

Pemerintah dan kepolisiannya mendapat kecaman global atas cara mereka menanggapi pemerkosaan dan kematian perempuan muda di Hathras itu. Terutama setelah pihak berwenang mengkremasi tubuhnya di tengah malam, sehingga keluarga dan media tidak bisa memantau pemakamannya.

Beberapa hari setelah kematian perempuan muda di Dalit itu, protes diadakan di seluruh India.

Di Uttar Pradesh, petugas keamanan dikritik keras karena memukuli pengunjuk rasa dengan tongkat dalam upaya menghentikan mereka mengunjungi keluarga korban.

Para pemimpin oposisi yang bergabung dengan protes pun dihalang-halangi.

Pada tanggal 4 Oktober, sehari sebelum Kappan dan saya pergi secara terpisah ke Hathras, Adityanath mengklaim bahwa ada "konspirasi internasional" untuk menodai citra negara dan bahwa "insiden itu dieksploitasi oleh mereka yang kesal dengan kemajuan selama pemerintahannya."

Para aktivis kebebasan pers mengatakan mereka khawatir India semakin tidak aman bagi jurnalis.

Tahun lalu, negara itu menduduki peringkat 142 dari 180 negara yang dianalisis dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia.

Angka itu disusun setiap tahun oleh Reporters Without Borders - turun dua peringkat dari tahun sebelumnya.

Pada bulan Februari, polisi mengajukan tuntutan pidana terhadap delapan jurnalis yang meliput protes petani di Delhi.

Jurnalis perempuan dan orang-orang dari komunitas Muslim secara khusus menjadi target karena dituduh membuat keributan di media sosial.

Abhilash, pengacara Kappan di Mahkamah Agung mengatakan polisi tidak dapat memberikan satu pun bukti yang memberatkan Kappan.

Namun mereka telah berhasil dalam satu hal. Yakni mengirim peringatan kepada wartawan untuk tidak pergi ke Hathras.

Pengacara Kappan lainnya Matthews mengatakan penangkapan Kappan "berbeda dengan penangkapan orang biasa".

"Membungkam media adalah akhir dari demokrasi," ujarnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini