Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perang Kerajaan Mataram Versus Pajang, Anak Angkat Lawan Ayahnya

Doddy Handoko , Jurnalis-Sabtu, 13 Maret 2021 |06:24 WIB
Kisah Perang Kerajaan Mataram Versus Pajang, Anak Angkat Lawan Ayahnya
Foto: History of Java
A
A
A

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

Suatu hari, Raden Pabelan yang menjadi keponakan Sutawijaya akan dihukum mati karena kedapatan menyelinap ke Keputren. Hal itu ia lakukan untuk bertemu dengan Ratu Sekar Kedaton atau putri bungsu Sultan Hadiwijaya. Raden Pabelan tertangkap dan dihukum mati. Hadiwijaya merasa disepelekan .

"Selain itu Sutawijaya sudah lama tidak sowan pada Hadiwijaya. Maka Pajang bersiap menyerang Mataram yang dianggap makar,"ungkap PNA.Masud Thoyib Adiningrat,Pengageng Kedaton Jayakarta.

Perang antara Kasultanan Pajang dan Mataram tidak bisa dihindarkan. Hadiwijaya naik gajah memimpin pasukannya menyerbu Mataram. Saat perang terjadi, Gunung Merapi yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka, tiba-tiba meletus. Laharnya turun melewati Sungai Opak dan menghantam tenda-tenda milik prajurit Hadiwijaya.

Banyak prajurit Sultan Hadiwijaya yang menjadi korban meletusnya Merapi.Melihat hal itu, Jaka Tingkir langsung menarik mundur para prajuritnya.

"Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat Klaten. Aneh, gerbang makam tersebut tidak bisa dibuka. Karena kejadian itu, Sultan Hadiwijaya merasa ajalnya sebentar lagi. Benar saja, ia jatuh dari gajah yang ditumpanginya. Setelah kejadian itu, kesehatan Sultan Hadiwijaya langsung menurun,"paparnya.

Ia memanggil anak-anaknya, satu diantarnya Pangeran Benowo. Ia berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak menaruh dendam kepada Sutawijaya. Danang Sutawijaya adalah anak angkat dari Sultan Hadiwijaya.

"Perang yang terjadi antara kedua belah pihak adalah takdir yang harus dilewati. Tak lama kemudian, Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir wafat. Ia dimakamkan di desa sang ibu yang bernama Desa Butuh, Sragen, Jawa Tengah,"ungkapnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement