Dalam beberapa tahun terakhir, jeans robek menjadi sangat populer dan semua orang mulai dari bintang Bollywood, selebriti hingga orang biasa terlihat memakainya.
Menurut perancang busana Anand Bhushan, orang India memiliki "hubungan cinta-benci" dengan jeans robek.
"Untuk kaum muda, mereka terlihat gaul, keren dan cocok dengan kerumunan yang modis. Sedangkan bagi orang tua dan kakek-nenek mereka, mereka tidak dapat memahami mengapa anak-anak mengenakan pakaian robek,” terangnya.
Tapi, ketidaksukaan orang tua pada gaya busana anak mereka adalah masalah yang sama sekali berbeda ketika otoritas publik mulai menyalahkan pakaian untuk penyakit masyarakat.
"Ini upaya untuk mengontrol perempuan. Melelahkan bagaimana patriarki laki-laki ini bersembunyi di balik tabir tradisi yang merendahkan perempuan dengan mencoba mengontrol apa yang mereka kenakan," lanjutnya.
"Mereka tidak memiliki argumen baru sehingga menawarkan argumen yang sama bahwa jeans bukanlah bagian dari budaya kita, bahwa jeans berasal dari Barat,” terangnya.
Kritik Menteri Rawat terhadap jeans robek memiliki konsekuensi yang tidak disengaja. Hal ini malah mendorong beberapa orang mencoba jeans robek-robek untuk pertama kalinya.
Viji Venkatesh, seorang konselor kanker yang berbasis di Mumbai, termasuk di antara mereka yang memposting foto mengenakan jeans robek-robek di Twitter.
Venkatesh mengatakan "sangat marah" oleh komentar "konyol dan menyinggung" yang diucapkan Rawat sehingga dia "memotong celana jeans yang bagus" untuk mengubahnya menjadi robek.
"Saya berusia 69 tahun dan umumnya memakai sari. Saya juga selalu bertanya-tanya mengapa anak-anak memakai jeans robek," ujarnya.
"Tapi saya sangat marah dengan ucapan anti-perempuan Rawat sehingga pada saat kesal itu saya membuat lubang di dalamnya dan mengunggah foto memakainya di Twitter,” terangnya.
Dia menambahkan apa yang dikenakan perempuan bukanlah urusan siapa pun kecuali mereka sendiri.
"Ini bukan urusan Rawat. Dia harusnya khawatir tentang mencairnya gletser di Uttarakhand, masalah lingkungan yang dihadapi negara dan bukan tentang apa yang dikenakan perempuan,” tegasnya.
(Susi Susanti)