Share

Dianggap Rasis, Kepala Sekolah Kulit Putih di Sekolah Katolik Diberhentikan

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 24 Maret 2021 12:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 24 18 2383200 suruh-siswa-kulit-hitam-minta-maaf-sambil-berlutut-cara-afrika-kepala-sekolah-kulit-putih-di-sekolah-katolik-diberhentikan-xQrRhJDWuh.jpg Ilustrasi rasisme (Foto: Shutterstock)

LONG ISLAND - Kepala sekolah berkulit putih dari sebuah sekolah Katolik di Long Island diberhentikan sementara setelah menyuruh seorang siswa kulit hitam meminta maaf sambil berlutut dan menyebut cara itu sebagai β€œcara Afrika”.

Kepala sekolah untuk sementara diberhentikan dari pekerjaannya di Sekolah St. Martin de Porres di Hempstead, New York, setelah orang tua siswa, Trisha Paul berbicara ke pers lokal mengenai perlakuan rasisme putranya yang berusia 11 tahun di sekolah tersebut.

Insiden tersebut pertama kali dilaporkan oleh New York Daily News.

"St. Martin tidak memaafkan atau menerima tindakan kepala sekolah kami," kata Brother James Conway, penjabat kepala sekolah, dalam sebuah pernyataan.

"Insiden itu tidak mencerminkan nilai-nilai kami yang lama dan mapan atau protokol yang ditetapkan mengenai masalah terkait siswa,” lanjutnya.

"Kami telah meluncurkan tinjauan internal atas insiden tersebut dan menyatakan kembali dalam istilah yang paling jelas apa praktik yang ditetapkan dan disetujui untuk interaksi mahasiswa-fakultas," terangnya.

(Baca juga: Kisah Para Tahanan Wanita Berjuang Hadapi Pandemi Covid-19 di Penjara)

"Misi terpenting kami di sini di St. Martin's adalah memberikan anak-anak kami landasan spiritual dan pendidikan yang akan memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang patut diteladani,” ungkapnya.

Melalui wawancara dengan CNN pada Selasa (23/3), Paul mengatakan dia melihat putranya tampak sedih sepulang sekolah suatu hari di akhir bulan lalu. Ketika dia bertanya kepadanya apa yang terjadi, dia mengatakan kepadanya jika dia telah dikirim ke kantor kepala sekolah untuk mengerjakan tugas di kelas Sastra selama waktu membaca yang ditentukan.

Paul berkata jika guru putranya menerima tugas itu, merobeknya, dan membawa putranya ke kantor kepala sekolah. Sesampai di sana, kepala sekolah menyuruh putranya untuk berlutut di depan guru untuk meminta maaf.

"Saya dipenuhi dengan berbagai jenis emosi," kata Paul. Ketika kepala sekolah menelepon beberapa hari kemudian untuk membahas tanggal komuni pertama putranya, Paul mengatakan pihak kepala sekolah tidka membahas hal itu.

"Saya bertanya padanya apa yang terjadi," katanya.

(Baca juga: Pasangan Suami Istri Ini Luncurkan Taksi Khusus Hewan Peliharaan)

"Dia mulai bercerita tentang sebuah keluarga Afrika yang bersekolah beberapa tahun yang lalu,” ungkapnya.

Paul mengatakan kepala sekolah bercerita tentang seorang mantan murid yang ayahnya pernah menyuruhnya membungkuk saat meminta maaf, menyebutnya "cara Nigeria".

"Saya hanya kehilangan kata-kata," kata Paul, yang bersama putranya berkulit hitam dan keturunan Haiti.

"Saya tidak mengerti relevansinya,” tambahnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

"Saya sangat sedih dan kecewa," ujarnya.

Paul pun memutuskan pergi ke sekolah untuk berbicara dengan kepala sekolah beberapa hari kemudian.

"Saya berharap bisa berbicara dengan dia," katanya.

Di kantornya, kepala sekolah menceritakan kisah itu lagi.

"Kali ini, 'cara Afrika',” ujarnya. Paul mencoba menyampaikan kepada kepala sekolah jika kepala sekolah akan "mempermalukan dan merendahkan anaknya”. Namun Paul merasa diabaikan.

Paul pun memutuskan untuk mengeluarkan putranya dari kelas tatap muka, dan saat ini menghadiri sekolah jarak jauh.

"Dia menjadi sangat pendiam," kata Paul pada Selasa (23/3).

"Interaksinya dengan semua orang - keluarga, teman - telah berubah. Dia sedih. Dia punya pertanyaan. Dia hanya mencoba untuk mengatasi ini,” jelasnya.

"Kami tidak semuanya sama," katanya.

"Kami tidak semua orang Afrika. Kami tidak semua orang Nigeria,” lanjutnya.

Paul mengatakan dia tidak pernah diberitahu tentang insiden disipliner oleh sekolah.

"Saya yakin jika putra saya tidak memberi tahu saya tentang insiden ini, itu akan disingkirkan," katanya.

"Saya berharap ada semacam resolusi jika kepala sekolah itu mundur," terangnya.

"Saya ingin ada perubahan. Saya ingin anak saya menjadi orang yang membuat perbedaan,” jelasnya.

Kepala sekolah, yang tidak disebutkan namanya oleh CNN, tidak menanggapi permintaan komentar. Baik Conway maupun St. Martin de Porres tidak mengomentari masalah di luar pernyataan publik penjabat kepala sekolah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini