Dunia Kehilangan Hutan Seukuran Negara Belanda

Agregasi VOA, · Kamis 01 April 2021 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 18 2387820 dunia-kehilangan-hutan-seukuran-negara-belanda-DqmhfnhbZp.jpg Ilustrasi hutan tropis di Brasil (Foto: AP)

BRASIL – Menurut angka terbaru dari organisasi penelitian dan advokasi World Resources Institute (WRI), dunia kehilangan hutan tropis seluas negara Belanda pada 2020, tahun kedua berturut-turut yang memburuk.

Kehilangan hutan ini ikut mendorong terjadinya perubahan iklim dan sebaliknya juga didorong perubahan iklim, karena kondisi panas dan kering berkontribusi pada hilangnya hutan di beberapa bagian dunia.

Beberapa titik terang muncul. Laju kehilangan hutan menurun di Indonesia dan Malaysia selama empat tahun berturut-turut. Namun secara keseluruhan, hilangnya 4,2 juta hektar hutan primer yang tidak dirambah meningkat 12 persen dari tahun 2019.

Daerah tropis kehilangan total 12,2 juta hektar hutan primer dan sekunder yang tumbuh kembali pada tahun 2020, kata data WRI. Kerugian yang dikeluarkan setara dengan emisi tahunan dari 570 juta mobil, lebih dari dua kali jumlah kendaraan di jalan-jalan raya di Amerika Serikat (AS).

(Baca juga: Tengkorak Dinosaurus Bernama "Yang Menakutkan" Ditemukan)

Brasil mengalami penurunan terbesar. Hutan seluas 1,7 juta hektar yang hilang merupakan peningkatan 25 persen dari tahun sebelumnya dan lebih dari tiga kali lipat dari kehilangan hutan tertinggi di negara berikutnya, Republik Demokratik Kongo (DRC).

Bolivia berada di urutan ketiga. Seperti di Brasil, sebagian besar kehilangan hutan terjadi karena pembakaran yang dilakukan untuk membuka lahan pertanian, tetapi tidak terkendali karena kondisi panas dan kering.

Dalam kabar baik yang jarang terjadi, laju kehilangan hutan di Indonesia melambat 17 persen pada tahun 2020, turun dari posisi ketiga dan menempati urutan keempat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pencatatan WRI.

(Baca juga: Suara dan Video Trump Dilarang di Facebook)

Cuaca yang lebih basah dan harga minyak sawit yang lebih rendah, komoditas yang mendorong deforestasi, kemungkinan berperan dalam menurunnya laju itu.

Para ahli mengatakan setelah kebakaran dahsyat pada tahun 2015, pemerintah juga memberlakukan tindakan yang berkontribusi. Tindakan itu termasuk pemantauan dan pencegahan kebakaran, pembatasan pembukaan perkebunan kelapa sawit baru dan reformasi agraria yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini