Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Mulai dari Educator hingga Eksekutor

Taufik Budi, Okezone · Kamis 01 April 2021 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 512 2387843 perempuan-dalam-pusaran-terorisme-mulai-dari-educator-hingga-eksekutor-rsDM9Kl8z0.jpeg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SEMARANG – Aksi terorisme di Mabes Polri bukan hanya mengagetkan melainkan juga mengundang keprihatinan. Terlebih aksi itu dilakukan seorang gadis yang mengacungkan senjata dan berakhir dengan tembakan petugas hingga pelaku meregang nyawa.

“Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Sudah mulai dari tahun 2016, 2018, 2019 cuma mereka perannya ada perannya berbeda-beda,” kata pengamat terorisme Universitas Islam negeri (UIN) Walisongo, Najahan Musyafak, Kamis (1/4/2021).

“Tapi dari sisi modusnya mereka perannya adalah sebagai eksekutor, sebagai suicide bomber atau pelaku bom bunuh diri. Dulu Surabaya, kemudian Makassar, sekarang di Jakarta di Mabes Polri,” imbuh dia.

Baca juga: Kapolsek Ciracas Minta Jangan Kucilkan Keluarga Penyerang Mabes Polri

Menurutnya, perempuan dalam pusaran aksi terorisme bukan hanya sebagai eksekutor di lapangan. Mereka juga memiliki peran penting untuk memuluskan serangkaian aksi jaringan terorisme. Sebab, aksi teror kerap kali tidak berdiri sendiri melainkan terkait dengan jaringan.

Baca juga: Polisi Sebut Pelaku Teror di Mabes Polri 'Lone Wolf'

“Yang terlihat saat ini adalah sebagai suicide bomber, pelaku bom bunuh diri. Padahal di balik itu semua ada peran-peran yang dimainkan oleh perempuan, selain sebagai pelaku bom bunuh diri,” lugasnya.

“Misalkan peran mereka itu sebagai motivator, seperti yang ada di Makassar (bom bunuh diri di depan Gereja Katedral). MM (terduga teroris) untuk meyakinkan YSF dan L (pengantin baru pelaku bom bunuh diri Makassar),” terangnya.

Dia melanjutkan, peran perempuan selanjutnya dilakukan melalui bidang pendidikan. Terlebih di sekolah-sekolah berpaham radikal, peran pendidik sangat berpengaruh untuk membentuk karakter anak.

“Ada peran (perempuan) lagi sebagai educator, sebagai pendidik dan itu ada perempuan. Saya mencontohkan proses radikalisasi sampai berujung pada terorisme itu sudah dimulai dari pendidikan yang secara formal di sekolah-sekolah yang radikal,” ujarnya.

“Misalkan istilah jihad. Anak kecil sudah dikatakan jihad Allahu Akbar. Padahal Allahu Akbar itu benar, jika untuk salat. Tapi Allahu Akbar untuk merusak itu menjadi tidak benar. Inilah peran edukator,” lugas dia.

Selain itu, peran lain perempuan juga dilibatkan dalam penggalangan untu mendukung aksi terorisme. Termasuk menjadi kurir hingga penyedia logistik bagi kaum pria yang dianggap berjuang (aksi terorisme).

“Kemudian menjadi fund riser atau penggalangan dana, menjadi logistic supplier atau suplai logistik. Kemudian menjadi agen, menjadi kurir, itu yang dilakukan istrinya Noordin M Top, istrinya Doktor Azhari, istrinya Santoso,” beber dia.

“Tapi kan mereka tidak kelihatan di permukaan, tidak terekspos di media, yang terekspos adalah mereka yang melakukan aksi di arena terbuka, yang di lapangan. Seperti pelaku bom bunuh diri ini. Makanya saya menyebut keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme adalah hidden threat atau ancaman tersembunyi,” tandasnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini