Setahun Pandemi Covid-19, Orang Kaya Raya di Dunia Paling Banyak Muncul di Kota Ini

Agregasi VOA, · Jum'at 09 April 2021 06:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 18 2391742 setahun-pandemi-covid-19-orang-kaya-raya-di-dunia-paling-banyak-muncul-di-kota-ini-FfQMr0VcTn.jpg Ilustrasi orang kaya raya (Foto: Alamy)

BEIJING - Puluhan orang kaya raya baru muncul di Beijing selama pandemi Covid-19. Menurut laporan terbaru majalah Forbes, ibu kota China itu kini memiliki lebih banyak miliarder ketimbang kota manapun di dunia.

Pada tahun 2020 terdapat 67 miliarder di Beijing. Namun saat ini, berdasarkan catatan Forbes, jumlah hartawan di ibu kota China itu melonjak menjadi 100 orang.

Dalam daftar itu, New York berada di peringkat kedua. Kota di Amerika Serikat (AS) itu memiliki 99 miliuner. New York konsisten berada di peringkat atas selama tujuh tahun terakhir.

Munculnya puluhan miliarder baru di Beijing diyakini berkaitan dengan tiga faktor penting, salah satunya kebijakan pemerintah China menerapkan karantina wilayah pada masa awal pandemi.

Dua pemicu lainnya adalah kemunculan banyak perusahaan teknologi serta pencapaian pasar modal mereka.

(Baca juga: Model Populer Ditahan, Penangkapan Selebriti yang Tolak Kudeta Makin Gencar)

Meski begitu, jika dikalkulasi, jumlah kekayaan miliuner Beijing kalah banyak dibandingkan total harta kekayaan para hartawan di New York.

Kekayaan miliuner Beijing berselisih USD80 miliar atau sekitar Rp1.165 triliun dari miliarder New York.

Warga Beijing terkaya dalam catatan Forbes adalah Zhang Yiming. Selain pendiri aplikasi video TikTok, dia juga menjabat pimpinan eksekutif ByteDance, perusahaan induk TikTok.

Dalam setahun terakhir, kekayaan Yiming bertambah hingga mencapai USD35,6 miliar atau Rp518 triliun.

Sementara di New York, status miliuner terkaya dipegang mantan wali kota mereka, Michael Bloomberg.

(Baca juga: Kisah Para Lansia Wariskan Keahlian yang Tidak Diajarkan di Sekolah ke 1.000 Anak)

Pengusaha yang pernah mencalonkan diri menjadi calon presiden AS itu memiliki lebih banyak harta ketimbang Yiming, sebesar USD59 miliar (Rp859 triliun).

Seperti yang juga terjadi di AS, raksasa teknologi China bertumbuh besar selama pandemi Covid-19. Pemicunya adalah semakin banyak orang yang berbelanja dan mencari hiburan secara daring.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini