Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dentuman Meriam Bertalu-talu, Meriahnya Sambut Ramadhan di Zaman Penjajahan

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 12 April 2021 |18:51 WIB
Dentuman Meriam Bertalu-talu, Meriahnya Sambut Ramadhan di Zaman Penjajahan
Ilustrasi (Foto: Okezone)
A
A
A

Suasana perkampungan identik dengan sifat homogen yang dimiliki warga yang tinggal di dalamnya. Membuat warganya memiliki hubungan yang erat dan akrab satu sama lain. Menjadikan bulan Ramadhan di era itu, lebih meriah dan hangat dibandingkan sekarang.

Saat ini, penentuan Isbat atau hari pertama Ramadhan dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenang) RI. Sedangkan pada masa penjajahan kolonial, hal itu dilakukan oleh Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau yang lebih dikenal dengan Hoofbestur.

“Diurus oleh Hoofbestur, yang mengurus urusan pribumi,” jelas Ridwan.

Meskipun berstatus sebagai penjajah, Kolonial Belanda nyatanya tidak mengekang atau pun melarang kegiatan keagamaan seperti bulan Ramadhan. Belanda memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk merayakan atau menjalankan kegiatan keagamaannya masing-masing.

Belanda pun nyatanya mendukung penuh bulan Ramadhan yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia pada waktu itu. Pihak Kolonial Belanda pun menyetujui usulan meliburkan sekolah selama bulan puasa berlangsung. Meliburkan sekolah pada seluruh jenjang, selama satu bulan penuh.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement