AS Bantah Terlibat dalam Insiden "Terorisme Nuklir" di Fasilitas Natanz Iran

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 13 April 2021 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 13 18 2393821 as-bantah-terlibat-dalam-insiden-terorisme-nuklir-di-fasilitas-natanz-iran-JQtEszQRHF.jpg Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki. (Foto: Reuters)

WASHINGTON, DCAmerika Serikat (AS) pada Senin (12/3/2021) membantah telah memainkan peran dalam insiden pemadaman listrik di situs nuklir Iran. Gedung Putih juga menolak berkomentar mengenai dugaan apakah insiden itu adalah sabotase yang dilakukan oleh Israel atau apakah akan ada dampak pada upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015.

"AS tidak terlibat dengan cara apa pun," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki menanggapi pertanyaan tersebut sebagaimana dilansir Reuters. "Kami tidak menambahkan spekulasi tentang penyebab atau dampaknya."

BACA JUGA: Fasilitas Nuklirnya Diserang, Iran Sebut Tindakan Terorisme

Iran menuduh musuh bebuyutan Israel menyabotase pabrik pengayaan uranium Natanz, menyebutnya sebagai aksi “terorisme nuklir”. Teheran bersumpah akan membalas dendam atas serangan yang tampaknya merupakan episode terbaru dalam perang rahasia yang telah berlangsung lama.

Israel menentang kesepakatan nuklir Teheran 2015 dengan negara-negara besar, kesepakatan yang coba dihidupkan kembali oleh Iran dan Presiden AS Joe Biden setelah pendahulunya, Donald Trump, mengabaikannya tiga tahun lalu.

Meski Tel Aviv belum berkomentar secara resmi, beberapa media Israel mengutip sumber intelijen yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa dinas mata-mata Mossad berada di balik sabotase kompleks bawah tanah tersebut.

BACA JUGA: Iran Salahkan Israel atas "Terorisme Nuklir" di Fasilitas Natanz, Bersumpah Balas Dendam

Pekan lalu, Iran dan negara-negara besar melakukan pembicaraan yang digambarkan “konstruktif” guna menyelamatkan kesepakatan nuklir, yang intinya melibatkan pembatasan kegiatan nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional AS dan lainnya.

Trump mengingkari pakta pada 2018 dengan memberlakukan kembali sanksi ekonomi AS yang keras, mendorong Iran untuk melanggar banyak pembatasan nuklir mulai 2019.

Pembicaraan tidak langsung di Wina, di mana sebagian besar diplomat Eropa bolak-balik antara pihak yang tersisa dalam kesepakatan itu dan Amerika Serikat, diperkirakan akan dilanjutkan pada Rabu (14/4/2021).

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini