Bantu Kesulitan Akibat Pandemi Covid-19, Masjid di Jerman Gelar "Iftar To Go"

Agregasi VOA, · Kamis 15 April 2021 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 18 2395084 bantu-kesulitan-akibat-pandemi-covid-19-masjid-di-jerman-gelar-iftar-to-go-eXwB7eHsNV.jpg Relawan masjid di Jerman memberikan iftar gratis (Foto: Reuters)

JERMAN - Ramadhan kembali berlangsung saat Jerman masih didera pandemi Covid-19. Saat ini, Jerman masih memberlakukan lockdown sebagian. Namun hal itu tak menghalangi niat sebuah komunitas Muslim di Wuppertal, Jerman, untuk membantu mereka yang kesulitan selama bulan suci itu.

Banyak restoran tutup, orang-orang dilarang berkumpul, dan ada pembatasan bergerak setelah jam tertentu. Semua itu membuat kegiatan berbuka puasa, atau iftar, sulit bagi banyak Muslim di Jerman.

Komunitas Muslim di masjid Ditib di Wuppertal, Jerman, berusaha mengatasi masalah ini dengan menyelenggarakan program “Iftar To Go”, yang pada intinya menyediakan makanan malam siap santap gratis bagi siapa saja, tak hanya Muslim, selama Ramadhan.

Program ini pernah digelar tahun lalu, dan banyak mendapat sambutan. Tahun ini, menurut panitianya, permintaannya lebih besar karena pandemi telah mengakibatkan semakin banyak orang mengalami kesulitan finansial.

(Baca juga: Ikuti Langkah AS, NATO Akan Tarik 7.000 Tentara di Afghanistan)

“Ini edisi baru dari tahun lalu. Tahun lalu kami memulainya pertama kali karena adanya pembatasan terkait wabah virus corona. Tahun ini kami juga banyak mendapat permintaan, bahkan harus menambah jumlah makanan. Orang-orang yang bersedia menyumbangkan uang mengatakan, mereka akan dengan senang hati mendukung program ini. Jadi, ketika kami menyadari bahwa pandemi belum berakhir, kami memutuskan sejak awal untuk melanjutkannya," jelas Mustafa Temizer, Ketua panitia "Iftar To Go".

 Bagi komunitas Muslim di Wuppertal, atau Jerman pada umumnya, mencari makanan untuk berbuka puasa pada saat ini tidaklah mudah. Pandemi menghalangi mereka ke luar rumah karena adanya peraturan jam malam. Selepas pukul 7 malam waktu setempat, mereka dilarang berkeliaran di luar rumah, meski matahari baru akan terbenam atau saat azan magrib dikumandangkan, satu jam kemudian.

(Baca juga: Situasi Makin Tak Kondusif, 200 Warga Indonesia Tinggalkan Myanmar)

Komunitas Muslim ini tidak hanya menyediakan layanan ambil, tapi layanan antar makanan. Panitia menyediakan petugas yang siap mengirim makanan ke keluarga-keluarga yang membutuhkan sepanjang mereka memesannya terlebih dahulu.

Pada tahun ini mereka berencana akan membagikan 12.000 paket makanan selama 30 hari ke depan, 2.000 lebih banyak daripada tahun 2020. Paket makanan itu dapat diambil di bekas pom bensin di seberang masjid Ditib atau bagi mereka yang tidak dapat keluar, atau memilih tidak ke luar rumah, makanan mereka dapat diantar oleh salah seorang sukarelawan.

Temizer mengatakan setengah dari jumlah paket makanan yang diantar umumnya untuk mereka yang sudah lanjut usia dan berhalangan datang. Ia menegaskan, makanan yang mereka sediakan tidak hanya untuk warga Muslim.

"Jika Anda membutuhkan atau jika Anda hanya ingin mendapatkan pengiriman makan iftar, itu sudah cukup. Kami tidak mempersoalkan kewarganegaraan, kami tidak mempersoalkan agama, kami hanya meletakkan makanan di depan pintu rumah Anda dan pergi," terangnya.

Warga Muslim, seperti Hassan Moustafa, menyambut uluran tangan komunitas Muslim di masjid di Ditib. "Sangat praktis bagi saya. Hanya mengambil makanan. Saya menghemat waktu karena tidak harus menyiapkannya di rumah. Praktis sekali," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini