Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Warga Baduy Masuk Islam dan Naik Haji

Doddy Handoko , Jurnalis-Kamis, 15 April 2021 |06:25 WIB
Kisah Warga Baduy Masuk Islam dan Naik Haji
Ilustrasi permukiman Suku Baduy. (Foto: Istimewa/IG)
A
A
A

DI KAMPUNG Margaluyu, desa Leuwidamar, Kabupaten Rangkasbitung, atau yang dikenal dengan kampung suku Baduy, tinggal H. Amad Salim, warga dari Suku Baduy pertama yang masuk Islam abad 21. 

Ia memeluk Islam tahun 1987, saat dirinya pertama kali mengucapkan syahadat. ”Saya masuk Islam karena hidayah dari Allah,” tuturnya.

Amad lahir dan dibesarkan di Kampung Baduy Luar yakni Desa Kanekes, Cibulegeur, Rangkasbitung. Sejak tinggal di kawasan warga baduy itu, dia telah bergaul dengan orang yang beragama Islam. Cuma saat itu, dia belum berpikir untuk masuk Islam.

Semakin lama dia merasakan bahwa tinggal di Kampung Baduy seperti terbelenggu oleh adat. Satu di antara pertanyaan yang mengusik hatinya tentang pelarangan warga Baduy untuk sekolah. Padahal dia melihat warga desa lain yang bukan Baduy justru wajib menempuh pendidikan.

Hal lain yang juga membuat gundah adalah perihal orang Baduy tidak boleh ke puskesmas jika sakit. Mereka hanya memakai obat-obatan tradisional atau memanggil dukun.

Sampai saat ini, adat leluhur masih dipelihara dan dipegang teguh oleh warga Baduy. Adat itu antara lain tidak mau menerima modernisasi. Orang Baduy tidak boleh memakai listrik, dilarang naik mobil, rumah tidak boleh dari batu bata harus dari kayu. Mereka juga tidak boleh bersekolah. Sedang aliran kepercayaan mereka bernama sunda wiwitan. 

Baca juga: Ramadhan di Betawi Tempo Doeloe Diumumkan dengan Bedug dan Petasan

“Padahal saya melihat tetangga desa sebelah memiliki tv dan kendaraan roda dua. Anak-anaknya juga sekolah,” katanya.

Dengan adat yang keras seperti itu, Amad merasa tersiksa. Seiring waktu, muncul keinginan untuk menjadi muslim. Amad lantas berbicara dengan kawan-kawannya bahwa hatinya terdorong masuk Islam. Singkat cerita, dia mengikrarkan syahadat di kantor desa, dibimbing oleh pegawai Depag dari Rangkasbitung bernama Isnaeni.

Setelah menjadi muslim, dia masih tinggal di Desa Kanekes. Lantas sekitar tahun 1987, dia dan warga Baduy yang beragama Islam dimukimkan oleh Depsos di Margaluyu. Bedol desa tadi diikuti skitar 80 kepala keluarga berjumlah 200 orang. Tapi yang bertahan cuma 47 KK, sebagian balik lagi ke Baduy Luar.

Perjuangan cukup berat saat babat alas di Desa Margaluyu. Demi menggairahkan warga supaya belajar agama, setiap malam didakan acara membaca surat Yasin atau Yasinan dari rumah ke rumah dengan sistem undian.

Baca juga: Ziarah ke Makam Raja-raja Kerajaan Demak di Masjid Demak

Ternyata mengaji dari rumah ke rumah kurang memuaskan warga Margaluyu. Maka mereka memimpikan memiliki masjid. Langkah lantas direntang, mereka mengajukan proposal kepada Pemda Rangkasbitung. Keberuntungan menaungi mereka, keinginannya dikabulkan. Depag membangun sebuah masjid di Margaluyu akhir tahun 1987. 

Sehabis masalah masjid usai, muncul persoalan baru. Sampai sekarang belum terdapat ustadz dari orang Baduy asli. Sehari-hari mereka memanggil ustadz dari desa sekitar dan dari yayasan Jamiati Washliah yang selama ini membimbing.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement