“Jadi kalau saya sampaikan ada dua metode testingnya yakni melalui PCR, dimana persentase kasusnya sepekan 9,6%. Sedangkan melalui rapid antigen sekitar 3.000, dan 2% persentasenya. Meskipun rapid antigen ini tentu harus diulang dengan PCR,” kata Widyastuti.
Widyastuti mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan hasil tes negatif dari pemeriksaan antigen.
“Pesannya yang sangat penting adalah mungkin kami khawatir warga kita begitu di tes dengan rapid antigen negatif, terus merasa tenang. Nah ini yang membuat kita sedikit khawatir. Itu yang selalu kita pesankan, sangan terlena dengan pemeriksaan antigen. Jangan terlena begitu negatif dengan antigen kemudian merasa sehat,” tegasnya.
(Khafid Mardiyansyah)