Masjid Agung Awwal Fathul Mubien Saksi Bisu Penyebaran Islam di Indonesia Timur

Subhan Sabu, Okezone · Senin 19 April 2021 05:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 340 2396837 masjid-agung-awwal-fathul-mubien-saksi-bisu-penyebaran-islam-di-indonesia-timur-SMQ3oo7MdC.jpg Masjid Agung Awwal Fathul Mubien (Foto : Okezone.com/Subhan)

MANADO - Penyebaran agama Islam di Indonesia bagian timur terutama di Manado, Sulawesi Utara, ditandai dengan keberadaan Masjid Agung Awwal Fathul Mubien yang terletak di Kelurahan Kampung Islam, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Masjid tersebut merupakan saksi bisu sejarah perjalanan ajaran Islam di Indonesia bagian Timur. Sesuai dengan namanya yang berarti awal atau pembuka yang nyata yang berdiri sejak tahun 1802. Masjid itu dahulunya merupakan tempat ibadah dari saudagar yang berasal dari Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta sebagai rombongan pertama yang datang.

"Kemudian rombongan kedua berasal dari Padang, Palembang dan Makassar. Kemudian rombongan ketiga dari Yaman Hadramaut dan beberapa daerah lain yang datang ke tempat ini," tutur Hamzah Razak yang juga sebagai ketua pembangunan Masjid Agung Awal Fathul Mubien, Senin (19/4/2021)

Bukti Sejarah menurutnya sudah tidak ada lagi, namun ada dua lahan utama sebagai bukti sejarah yang diberikan oleh pemerintah Belanda, salah satunya yakni lahan pekuburan yanng berada disebelah utara, sekira 100 meter jaraknya dari masjid. Di dalam pekuburan tersebut terdapat makam-makam dari orang pertama yang datang.

Selain itu, di Masjid agung ini masih terdapat sebuah mimbar dihiasi dengan berbagai ukiran dan ornamen melayu ini, konon dibuat oleh salah satu keturunan Raja Palembang. Sehingga, tak heran mimbar ini memiliki bentuk dan sama persis dengan mimbar di Masjid Agung Palembang.

Mimbar di Masjid Agung Awwal (Foto : Okezone.com/Subhan)

Awalnya, kata Hamzah, dahulu tempat tersebut belum bernama kampung Islam. Pada awalnya para pendatang bermukim di tempat tersebut sekira tahun 1776. Itulah awal komunitas muslim yang pertama dibentuk di daerah Manado dan Minahasa. Lama kelamaan menjadi Kampung Islam karena banyaknya warga muslim yang bermukim di tempat tersebut yang kemudian mendirikan masjid.

Masjid ini dulu tak semegah sekarang. Awalnya, masjid yang dibangun tahun 1802 ini, berbentuk sederhana berdinding bambu dengan pondasi batu karang dan berlantai papan dengan luas 4 x 4 meter persegi. Kemudian, pada tahun 1830, masjid ini dipugar dengan ukuran bangunan 8x8 meter persegi, yang dibangun dengan dinding papan, dengan pondasi campuran kapur dan teras.

"Karena bertepatan pada waktu itu usai perang Diponegoro dan dibuangnya Pangeran Diponegoro dan pengikutnya di Manado, dengan demikian secara otomatis jamaah pun mengalami peningkatan," kata Hamzah.

Baca Juga : Bukannya Sholat Tarawih, Dua Kelompok Remaja Malah Tawuran Saling Lempar Batu dan Petasan

Lalu, pada 1930 mengalami renovasi yang kedua dengan penambahan luas menjadi 8 x 12 meter persegi. Selanjutnya pada tahun 1950 seiring bertambahnya jumlah jamaah maka terjadi perubahan dan penambahan luas menjadi 8 x 14 meter persegi. Pada tahun 1967, masjid dibangun kembali dengan bangunan yang baru yang luasnya 26 x 26 meter persegi secara bertahap.

Pada tahun 1975 masjid disempurnakan pada bagian interior seperti lantai dan plafon. Pada tahun 1983 dibangun menars masjid sebagai pelengkap kemudian pada tahun 1994 bangunan mengalami penambahan tiga meter di samping kiri dan kanan serta pada pintu masjid.

"Jadi secara fisik, bangunan masjid mengalami lima kali renovasi, pada waktu itu 1802 dan 1967 pembangunan kembali. Kemudian pada tahun 2016 masjid ini dibangun kembali, jadi dirombak secara total, dibangun kembali pada tanggal 6 Februari 2016. Saat ini prosentasi pekerjaan sudah mencapai 67 persen," ujar Hamzah.

Direncanakan tahun 2021 ini Masjid sudah selesai dibangun. Pembangunan kembali bangunan masjid yang baru disebabkan bangunan lama sudah tidak layak lagi, dimana struktur bangunan sudah banyak yang retak dan banyak atap yang bocor serta bertambahnya jamaah sehingga bangunan yang lama sudah tidak mampu lagi menampung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini