Pertempuran Makin Sengit, Ribuan Penduduk Desa Myanmar Mengungsi ke Thailand

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 30 April 2021 15:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 18 2403529 pertempuran-makin-sengit-ribuan-penduduk-desa-myanmar-mengungsi-ke-thailand-lYY5LuVklG.jpg Kamp pengungsian Ee Thu Hta di tepi sungai Salween, Thailand. (Foto: Reuters)

YANGON - Ribuan penduduk desa etnis Karen di Myanmar siap untuk menyeberang ke Thailand jika pertempuran antara tentara Myanmar dan pemberontak Karen meningkat.

Pemberontak Karen dan tentara Myanmar bentrok di dekat perbatasan Thailand dalam beberapa pekan terakhir sejak para jenderal Myanmar menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi. Kudeta itu telah memicu kembali konflik dengan kelompok-kelompok milisi yang telah relatif tenang dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Pertempuran Sengit Pecah di Perbatasan Myanmar - Thailand

"Orang-orang mengatakan orang Burma akan datang dan menembak kami, jadi kami melarikan diri ke sini," kata Chu Wah, seorang warga desa Karen yang menyeberang ke Thailand bersama keluarganya minggu ini dari kamp pengungsian Ee Thu Hta di Myanmar, kepada Reuters.

"Saya harus melarikan diri ke seberang sungai," kata Chu Wah, mengacu pada sungai Salween yang menjadi perbatasan di daerah itu.

Kelompok Jaringan Dukungan Perdamaian Karen mengatakan ribuan penduduk desa berlindung di sisi Myanmar dari Salween dan mereka akan melarikan diri ke Thailand jika pertempuran meningkat.

"Dalam beberapa hari mendatang, lebih dari 8.000 orang Karen di sepanjang sungai Salween harus mengungsi ke Thailand. Kami berharap tentara Thailand akan membantu mereka melarikan diri dari perang," kata kelompok itu dalam sebuah posting di Facebook.

BACA JUGA: 2 Pangkalan Udara Myanmar Diserang, Ledakan dan Tembakan Roket Terlihat

Pejuang Karen pada Selasa (27/4/2021) menyerbu unit tentara Myanmar di tepi barat Salween dalam serangan menjelang fajar. Karen mengatakan 13 tentara dan tiga pejuang mereka tewas. Militer Myanmar menanggapi dengan serangan udara di beberapa daerah dekat perbatasan Thailand.

Juru bicara kementerian luar negeri Thailand mengatakan 2.267 warga sipil telah menyeberang ke Thailand pada Jumat (30/4/2021) pagi sejak putaran terakhir konflik dimulai. Thailand telah memperkuat pasukannya dan membatasi akses ke perbatasan.

Penduduk dua desa Thailand yang dekat dengan perbatasan juga telah mengungsi, Juru Bicara kementerian Tanee Sangrat mengatakan dalam sebuah pengarahan, dengan 220 orang mencari perlindungan lebih dalam di wilayah Thailand untuk keselamatan.

"Situasi telah meningkat sehingga kami tidak bisa kembali," kata Warong Tisakul, 33, seorang warga desa Thailand dari Mae Sam Laep, sebuah pemukiman, sekarang ditinggalkan, di seberang pos tentara Myanmar yang diserang minggu ini.

"Petugas keamanan tidak mengizinkan kami, kami tidak bisa kembali."

Bentrokan hebat juga terjadi di utara Myanmar antara pasukan pemerintah dan pemberontak etnis Kachin.

Media melaporkan banyak korban di antara pasukan pemerintah dalam beberapa hari terakhir, tetapi juru bicara kelompok pemberontak Tentara Kemerdekaan Kachin mengatakan dia tidak dapat mengkonfirmasi angka apapun.

"Akan ada korban di kedua belah pihak karena ada pertempuran," kata Juru Bicara Naw Bu melalui telepon.

Karen, Kachin dan beberapa kelompok pemberontak lainnya telah mendukung para pengunjuk rasa pro-demokrasi yang telah turun ke jalan di kota-kota di seluruh negeri untuk menentang kembalinya kekuasaan militer.

Pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 759 pengunjuk rasa sejak kudeta, kata kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik. Reuters tidak dapat memastikan jumlah korban.

Militer telah mengakui kematian beberapa pengunjuk rasa, terbunuh setelah mereka memulai kekerasan, katanya. Beberapa anggota pasukan keamanan tewas dalam protes itu, kata militer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini