Afrika Selatan Larang Pembiakan Singa agar Wisatawan Bisa Membelai Anaknya

Susi Susanti, Koran SI · Senin 03 Mei 2021 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 18 2404546 afrika-selatan-larang-pembiakan-singa-agar-wisatawan-bisa-membelai-anaknya-RG7LI3OVfO.jpg Afrika Selatan larang pembiakan singa (Foto: Corbis News)

AFRIKA SELATAN - Afrika Selatan berencana akan menekan pembiakan singa untuk berburu agar wisatawan dapat membelai anaknya.

Langkah ini dilakukan setelah hasil penelitian selama dua tahun dipublikasikan tentang praktik kontroversial penangkaran singa.

Ditemukan bahwa praktik tersebut mempertaruhkan upaya konservasi dan membahayakan hewan liar.

Pemerintah Afrika Selatan menerima rekomendasi panel yang dapat membuat marah industri perburuan.

"Apa yang dikatakan laporan mayoritas, berkenaan dengan penangkaran singa: dikatakan bahwa kita harus menghentikan dan membalikkan domestikasi singa melalui penangkaran dan pemeliharaan," kata Menteri Lingkungan Barbara Creecy.

"Kami tidak ingin penangkaran, perburuan singa dan turunannya,” terangnya.

(Baca juga: Dukun Ini Klaim Bisa Sembuhkan Covid-19 Tanpa Obat dan Vaksin)

Namun dia mengatakan perburuan singa yang dibesarkan di alam liar akan diizinkan untuk dilanjutkan. Ini memberikan sumber pendapatan pariwisata yang menguntungkan.

Panel tersebut bertugas meninjau kebijakan dan peraturan tentang singa, macan tutul, badak, dan gajah.

Mengenai cula badak dan tumpukan gading, panel merekomendasikan negosiasi dengan negara-negara Afrika selatan lainnya sebelum menentukan apakah mereka dapat dibuang.

Lebih dari 8.000 singa diperkirakan berada di penangkaran di Afrika Selatan, dibandingkan dengan sekitar 3.500 di alam liar.

(Baca juga: Covid-19 Melonjak, Australia Ancam Penjara 5 Tahun dan Denda Rp735 Juta bagi Warganya yang Kembali dari India)

Para pendukung penangkaran mengatakan hal itu dapat membantu melindungi hewan liar dari penangkaran, tetapi para kritikus melihatnya sebagai tindakan yang kejam dan eksploitatif.

Badan amal hewan global, World Animal Protection, menyebut pengumuman itu sebagai "kemenangan bagi satwa liar".

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini