Hamas Melawan Israel dengan Hujan Roket, Bagaimana Kekuatan dan Daya Jangkaunya?

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 14 Mei 2021 00:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 18 2409990 hamas-melawan-israel-dengan-hujan-roket-bagaimana-kekuatan-dan-daya-jangkaunya-qNRpARvjvm.jpeg Rudal Hamas. (Foto: Getty Images via BBC)

WALAU kematian, kerusakan dan penderitaan muncul di kedua belah pihak dalam pertikaian Palestina-Israel, konflik ini sangat tidak seimbang. 

Israel jelas kubu yang jauh lebih kuat. Dengan kekuatan tempur udara, drone bersenjata, dan sistem pengumpulan intelijen, Israel dapat dengan mudah menyerang target mereka di Gaza.

Israel membuat klaim bahwa serangan mereka hanya menyasar tempat-tempat yang digunakan sebagai basis kelompok militer Palestina. 

Di sisi lain, kelompok Hamas meladeni kekuatan Israel dengan mengandalkan roket-roketnya. 

Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, juga telah mengancam akan meningkatkan serangan, sembari memberi peringatan bahwa "bila Israel ingin meningkatkan [serangan], kami siap untuk itu," seperti yang dikutip AFP.

Namun kepadatan penduduk Palestina sangat tinggi. Ada juga fakta bahwa fasilitas Hamas dan Jihad Islam berada dekat dan di antaranya tersembunyi di bawah bangunan warga sipil. Konsekuensinya, mencegah jatuhnya korban sipil sama sekali tidak mungkin. 

Meski berstatus sebagai kubu yang 'lebih lemah', Hamas dan Jihad Islam memiliki persenjataan yang dapat menyerang Israel.

Baca juga: Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rusak Akibat Serangan Israel

Dua kelompok bersenjata di Palestina ini sudah mencoba berbagai taktik. Baru-baru ini sistem pertahanan Israel menembak jatuh drone, yang mungkin bersenjata, yang melintas ke wilayah Israel dari Gaza.

Seorang juru bicara militer Israel menyebut satu 'tim elit Hamas" berusaha menyusup ke Israel melalui terowongan dari bagian selatan Jalur Gaza. 

Militer Israel tampaknya, telah mewaspadai serangan ini. Dan menurut juru bicara tadi, penyusupan itu bisa mendorong mereka meledakkan terowongan tersebut.

Sejauh ini, persenjataan paling signifikan di gudang senjata Palestina adalah berbagai macam rudal darat-ke-darat mereka.

Beberapa di antaranya diyakini diselundupkan melalui terowongan dari semenanjung Sinai di Mesir.

Terdapat dugaan, persenjataan lain seperti rudal anti-tank buatan Kornet, Rusia, yang digunakan dalam konflik beberapa hari terakhir, juga diselendupkan melalui terowongan itu.

Namun sebagian besar persenjataan Hamas dan Jihad Islam diproduksi di pusat manufaktur yang relatif canggih di Jalur Gaza. 

Sejumlah pakar dari Israel maupun negara lain yakin Iran berperan penting dalam membangun industri persenjataan tersebut.

Atas asumsi itu, Israel menjadikan pabrik dan gudang senjata di Gaza sebagai salah satu sasaran utama serangan militer mereka.

Sangat mustahil memperkirakan jumlah rudal yang dimiliki Hamas. Rudal mereka diyakini memiliki daya jangkau yang beragam. Militer Israel memiliki perkiraan sendiri, tapi enggan membagikannya ke publik. 

Para pejabat Israel hanya akan berkata bahwa mereka yakin Hamas dapat terus-menerus menembakkan rudal dalam kurun waktu lama.

Kelompok militan Palestina menggunakan berbagai macam rudal. Sejauh ini tidak terlihat kebaruan dalam desain dasar rudal mereka. Akan tetapi, daya jangkau dan muatan eksplosif rudal itu diyakini meningkat.

Hamas memiliki sejumlah rudal sistem jarak pendek seperti Qassam (daya jangkau 10 kilometer) dan Quds 101 (16 kilometer). Ada juga Grad dan Sejil, keduanya mampu melesat hingga 55 kilometer.

Rudal jarak pendek mungkin adalah inventaris terbesar Hamas. Untuk serangan jarak yang lebih pendek, mereka menggunakan tembakan mortir.

Tapi Hamas juga mengoperasikan berbagai sistem rudal jarak jauh seperti M-75 (hingga 75 kilometer), Subuh (100 kilometer), R-160 (120 kilometer), dan beberapa rudal M-302 (200 kilometer).

Jadi Hamas diyakini memiliki senjata yang dapat mencapai Yerusalem dan Tel Aviv serta seluruh jalur pantai yang merupakan rumah sebagian besar populasi dan lokasi infrastruktur penting Israel.

Militer Israel mengeklaim bahwa 200 dari lebih dari seribu roket yang ditembakkan ke Israel selama tiga hari terakhir, jatuh di Jalur Gaza. Ada yang menilai ini menandakan masalah dalam proses pembuatan senjata yang tumbuh di Gaza. 

Militer Israel juga menyebut bahwa 90% dari semua rudal yang mencapai Israel dapat dicegat sistem anti-rudal Kubah Besi mereka.

Namun, sistem antirudal yang melindungi kota Ashkelon tampaknya tidak berfungsi akibat kerusakan teknis. Artinya, di balik keberhasilan teknisnya yang luar biasa itu, sistem itu bukan layar antirudal.

Untuk mengantisipasi tembakan rudal, hanya ada pilihan terbatas. Anda dapat menggunakan pertahanan antirudal. Anda bisa juga menyerang persediaan dan fasilitas produksi lawan.

Secara teori Anda juga dapat melakukan operasi darat untuk mendorong peluncur rudal kembali ke luar jangkauan efektif.

Namun semua itu tidak mungkin dilakukan dalam konflik ini. Palestina rentan karena strategi mereka tidak memiliki kedalaman strategis. Mereka juga tidak miliki tempat lain untuk berlindung.

Operasi darat untuk menahan tembakan rudal dimungkinkan. Tetapi seperti yang ditunjukkan dalam serangan besar terakhir Israel ke Gaza pada tahun 2014, korban jiwa yang muncul akan sangat besar.

Selama serangan Israel tahun 2014, 2.251 warga Palestina, termasuk 1.462 warga sipil, tewas, sementara di pihak Israel 67 tentara dan enam warga sipil tewas.

Siklus saling menembakkan roket, respons dan serangan yang terus berulang ini tidak akan meningkat ke tahap selanjutnya.

Paling-paling, masa tenang akan bergulir sebelum konflik berikutnya dimulai kembali.

Banyak pakar menilai ketegangan di Yerusalem adalah pemicu eskalasi saat ini. Sebuah sinyal sekali lagi bahwa perselisihan Israel-Palestina tidak dapat diabaikan.

Walau begitu, seiring semakin banyaknya negara Arab yang berdamai dengan Israel,dan saat warga Palestina terpecah secara politik, serta karena masalah ini tidak jadi agenda utama pemimpin Israel, sulit melihat bagaimana upaya menuju perdamaian dapat dibuat. 

Butuhkan kemajuan nyata di lapangan, upaya kuat dan berkelanjutan dari pihak luar. Namun faktor-faktor itu sepertinya belum terlihat. 

---

Jonathan Marcus adalah pengamat hubungan internasional dan mantan koresponden isu pertahanan-diplomatik untuk BBC News

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini