YOGYAKARTA – Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqaddas turut bersuara mengenai 75 orang pegawai KPK yang tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan berkomentar, terutama berkaitan indikator TWK.
Menurut Busyro, TWK cenderung absurd dan tidak mencerminkan alinea 4 Pembukaan UUD 1945 sehingga menurut dia, perintah pengunduran diri secara paksa pada 75 pegawai KPK itu dianggap tidak memiliki legitimasi moral, akademik dan juga metodologi.
Pernyataan tersebut lantas ditimpali oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepersidenan (TAU KSP), Ali Mokhtar Ngabalin melalui sosial media Twitter. Ali Ngabalin bercuit:
“Otak-otak sungsang seperti Busyro Muqoddas ini merugikan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan ummat yang kuat dan berwibawa kenapa harus tercemar oleh manusia prejudice seperti ini,” tulis akun @AliNgabalinNew (13/5/2021).
Pernyataan Ngabalin lagi-lagi menuai reaksi dari Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) DIY. Koordinator Fokal IMM DIY, Saleh Tjan Masduki, mengatakan pihaknya menyesalkan statement Ali Ngabalin yang disuarakan lewat akun Twitter pribadinya.
“Kami menyesalkan isi statement/twit Ali Muchtar Ngabalin yang mengolok Ketua PP Muhammadiyah, Ayahanda M. Busyro Muqaddas, baik kapasitasnya sebagai pribadi ataupun Jabatan yang melekat sebagai TAU KSP. Ucapan Ngabalin tersebut niradab dan niretika," jelasnya, Kamis (14/5/2021).
"Ucapan Saudara Ali Mochtar Ngabalin jelas telah melukai institusi Muhammadiyah umumnya dan khususnya pada M. Busyro Muqaddas. Kapasitas Ayahanda Busyro sebagai Ketua PP Muhamamdiyah dan Eks Pimpinan KPK membuktikan bahwa beliau Expert (ahli) mengenai institusi KPK. Ngabalin tidak memiliki kapasitas membincang KPK, mungkin Ngabalinlah ‘Tong Kosong, Sumbang Suaranya’, sudah tidak ahli, ngelantur ucapannya,” ungkap Saleh Tjan.