Kesenian Tayub Pati Tetap Lestari di Tengah Pandangan Negatif Masyarakat

Agregasi Solopos, · Jum'at 14 Mei 2021 10:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 512 2410077 kesenian-tayub-pati-tetap-lestari-di-tengah-pandangan-negatif-masyarakat-56KAD9gbOL.jpg Ilustrasi (Foto : Instagram/@desa_srikaton)

Namun sangat disayangkan, pada masa kolonialisme Belanda, tradisi Tayub ini menjadi negatif karena unsur-unsur budaya barat yang dimasukkan tradisi ini oleh penjajah. Unsur negatif yang diberikan itu berupa tradisi minum-minuman beralkohol serta tindakan asusila.

Karena unsur negatif ini sudah melekat pada tradisi Tayub, hingga pada masa pemerintahan Sunan Pakubowono IV, tradisi ini tidak diperkenankan digelar kembali di kawasan pusat kerajaan dan akhirnya berkembang ke daerah-daerah pesisir utara Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Persepsi negatif dari tradisi Tayub ini semakin kuat karena keterlibatan penari wanita yang menari dengan penonton laki-laki dan ada yang sampai memberikan saweran kepada penari tersebut. Penari itu menerima saweran dan memasukannya ke dalam kemben sehingga muncul anggapan prostitusi dalam tradisi ini.

Baca Juga : Tradisi Lebaran Masyarakat Betawi di Ambang Kepunahan

Fungsi dari tradisi Tayub ini berkali-kali mengalami pergeseran, dari awalnya sebagai ritual hingga sekarang sebagai hiburan semata. Di mana dalam pertunjukan tayub, penari wanita akan mengajak penonton pria menari bersama dengan mengalungkan ledek atau selendang kepada penonton pria. Namun karena sudah melekat secara turun temurun, tradisi ini tetap digelar sebagai tujuan pergaualan atau hiburan saja.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini