"Jadi, prinsipnya sebenarnya sederhana ... dan ini penting karena dengan begitu, spesies ini bisa bbertahan hidup," terangnya.
Premis GenePartner dibangun berdasarkan penelitian saintis Swiss pada 1995, Dr Claus Wedekind, yang dikenal dengan penelitian "keringat kaus oblong".
Dalam penelitian ini, sekelompok mahasiswi diminta memberi nilai bau kaus oblong yang dipakai oleh beberapa laki-laki dua malam berturut-turut.
Hasilnya, para mahasiswi lebih menyukai kaus-kaus milik laki-laki yang punya HLA yang berbeda dengan para mahasiswi.
GenePartner menguji teori ini terhadap 250 pasangan yang menikah dan menemukan pola yang sama.
"Ketika Anda tertarik dengan seseorang, faktor penentunya bukan ketampanan atau kecantikan ... Anda [sebenarnya] tak tahu apa yang membuat Anda tertarik. Nah, faktor tersebut sebenarnya adalah HLA," lanjutnya.
Dia mengatakan peran HLA yang membuat seseorang tertarik dengan orang lain ini bersifat "instingtif dan sangat mendasar".
Bagi Cheiko Mitsui, analisis DNA sangat membantunya menemukan suami.
Mereka menikah pada September 2019 setelah berkencan selama kurang lebih satu bulan.
"Hasil analisis [memang] tidak 100% [cocok], namun nyaris sempurna ... saya memang mengharapkan hasil yang bagus, tapi hasilnya lebih baik dari yang saya perkirakan, jadi ya saya sangat bahagia," kata Mitsui.
Ia mengakui hasil tes DNA berperan besar untuk akhirnya memutuskan menikahi pasangannya.