Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perjodohan Berbasis DNA: Ketika Sains Bisa 'Membantu" Temukan Pasangan Ideal

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 19 Mei 2021 |12:15 WIB
Perjodohan Berbasis DNA: Ketika Sains Bisa 'Membantu
Ilustrasi hubungan cinta (Foto: Reuters)
A
A
A

JEPANG - Ini jelas bukan rumus jatuh cinta karena pandangan pertama. Ini adalah upaya menjalin hubungan asmara yang didasarkan pada hasil analisis DNA.

Dan makin banyak pasangan yang menggantungkan pada hasil analisis ini, untuk memutuskan apakah hubungan yang tengah dijalin layak diteruskan ke tahap yang lebih serius.

BBC berbicara dengan beberapa pasangan yang menuturkan bagaimana sains -- lebih tepatnya analisis DNA -- membantu mereka untuk makin mantap membina hubungan, dan bahkan menjadi salah faktor penentu yang membuat mereka akhirnya menikah.

  • 'Mengubah jalan hidup'

Cheiko Mitsui sudah mencoba mencari pasangan selama hampir sepuluh tahun ketika menemukan perjodohan berbasis DNA.

Perempuan berusia 45 tahun dari Kota Hakodate di Hokkaido, Jepang, ini bercerai pada usia 35, dan mulai merasa tak ada lelaki yang mau menjalin hubungan dengannya.

Segala upaya sudah ia tempuh: cari calon melalui koneksi pertemanan, hadir di pesta-pesta, hingga mendaftarkan diri ke biro jodoh.

"Tak ada yang cocok," ujarnya.

(Baca juga: Kisah Perjuangan Keluarga Selamatkan Nyawa Sang Ayah Akibat Covid-19 yang Kian Mengganas di India)

Hingga kemudian ia bertemu dengan Cheiko Date, yang mengklaim sudah berhasil menemukan pasangan bagi 700 klien dalam karier 20 tahun sebagai comblang.

Apa kunci suksesnya? Date mengatakan kuncinya adalah memanfaatkan produk perusahaan Swiss, GenePartner, yang menggunakan DNA untuk membantu seseorang menemukan pasangan yang cocok.

Dr Tamara Brown, salah satu pendiri GenePartner mengatakan jodoh "ditentukan oleh dua faktor, yaitu kesamaan kimiawi dan kompatibilitas sosial".

"Agar hubungan bisa langgeng, dua faktor itu harus cocok," ujarnya.

Proses menemukan jodoh diawali dengan tes usap dan kemudian gen-gen antigen leukosit (HLA) milik klien dianalisis.

Brown menjelaskan, HLA adalah gen yang penting bagi sistem kekebalan tubuh. Semakin banyak seseorang memiliki HLA, semakin baik respons imunnya.

(Baca juga: Gedung Pencakar Langit 70 Lantai Berguncang, Orang-orang Berlarian Selamatkan Diri)

Mamalia mengenali HLA ini karena mereka ingin mendapatkan bayi yang tahan terhadap penyakit.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement