Pemimpin Hizbullah: Serang Yerusalem Berarti Perang Kawasan

Agregasi VOA, · Kamis 27 Mei 2021 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 27 18 2416024 pemimpin-hizbullah-serang-yerusalem-berarti-perang-kawasan-S4KL4kCCrf.jpg Konflik Israel-Palestina (Foto: Reuters)

YERUSALEM - Kepala Hizbullah Lebanon Sayyed Hassan Nasrallah mengatakan pada Selasa (25/5),  setiap agresi terhadap Yerusalem atau situs sucinya bagi Muslim dan Kristiani bisa mengarah ke perang regional.

Pidato Nasrallah yang disiarkan televisi, adalah yang pertama sejak gencatan senjata mengakhiri perang paling sengit dalam beberapa tahun antara Israel dan kelompok militan Hamas yang berbasis di Gaza.

Permusuhan Israel-Hamas dimulai pada 10 Mei antara lain karena polisi Israel menggerebek kompleks masjid Al-Aqsa di Kota Tua dan bentrokan dengan warga Palestina dalam bulan Ramadan.

"Kalau kota suci, situs-situs suci bagi Muslim dan Kristiani menghadapi ancaman serius dan nyata, semua gerakan perlawanan tidak bisa diam dan membiarkan situs suci dalam bahaya," kata Nasrallah.

Kelompok Lebanon yang didukung Iran adalah penentang keras Israel dan pidato Nasrallah menandai peringatan penarikan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Nasrallah juga mengatakan bahwa pertempuran itu menunjukkan Hamas telah meningkatkan kemampuan roketnya. Itu, menurutnya pencapaian militer yang besar.

Di luar itu, Nasrallah mengatakan, satu-satunya jalan keluar dari krisis keuangan Lebanon adalah pembentukan kabinet yang layak. Perdana Menteri yang ditunjuk, Saad al-Hariri, berselisih selama berbulan-bulan dengan Presiden Michel Aoun, sekutu kuat Syiah Muslim Hizbullah, mengenai posisi kabinet.

(Baca juga: Konflik Palestina-Israel: Sheikh Jarrah, Wilayah Sengketa yang Rentan Picu Pertikaian)

Dia menambahkan hanya ada dua cara menyelesaikan kebuntuan: kedua pemimpin bertemu dan memutuskan pemerintahan, atau melakukannya dengan bantuan ketua parlemen kawakan, Nabih Berri.

Berri, yang juga pemimpin Gerakan Syiah Amal, berulang kali mengatakan bahwa pembentukan pemerintahan adalah satu-satunya cara menyelamatkan Lebanon dari keruntuhan finansial.

(Baca juga: Jika Pesawat Militer Menyergap Pesawat Penumpang Seperti Terjadi di Belarusia, Perintahnya 'Harus Dipatuhi')

 

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini