Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka, dan Demak membawa pada perkiraan bahwa naskah ini ditulis akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an.
Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.
"Salah satu Gunung yang tertulis adalah Gunung Damalung atau yang sekarang dikenal dengan Gunung Merbabu," ucapnya.
Prasasti itu berupa batu monolit berukuran panjang 100 centimeter dan lebar 20 centimeter diperkirakan dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Mataram Kuna yang berkuasa pada 898-908 Masehi.
"Keunikan Prasasti ini selain ditulis dalam bahasa jawa gunung juga kemungkinan besar dikeluarkan oleh seorang petinggi agama Hindu, hal ini tidak lazim karena beberapa prasasti yang mengeluarkan adalah raja yang memerintah di daerah itu, kemungkinan pada masa Mataram," paparnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.