Jenderal Israel: Perang 11 Hari di Gaza Hanya "Tahap Pertama"

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 04 Juni 2021 18:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 18 2420328 jenderal-israel-perang-11-hari-di-gaza-hanya-tahap-pertama-4kdIvLlrmI.jpg Api dan asap terlihat dari Gaza menyusul serangan udara Israel, 17 Mei 2021. (Foto: Reuters)

TEL AVIV – Seorang jenderal Israel mengatakan bahwa perang 11 hari di Gaza bulan lalu adalah ‘tahap pertama’ dari kampanye militer Israel yang lebih luas. Serangan Israel di dari 10 Mei hingga 21 Mei di Gaza telah menewaskan lebih dari 250 warga Palestina.

Dalam wawancara dengan Channel 13 Israel pada Kamis (3/6/2021) kepala Komando Selatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Mayor Jenderal Eliezer Toledano mengatakan bahwa IDF membatasi perang baru-baru ini di Gaza karena tekanan sipil di dalam negeri. Namun, dia mencatat bahwa militer siap untuk melanjutkan operasi militer jika diperlukan.

BACA JUGA: Israel Akan Punya PM Baru, Warga Palestina: Tidak Ada Bedanya

“Operasi berakhir, atau setidaknya tahap pertama selesai. Tahap selanjutnya akan terjadi jika kita melihat bahwa situasi keamanan telah berubah,” kata Toledano sebagaimana dilansir Times of Israel.

“Tahap pertama” itu melibatkan sekira 1.500 serangan udara terhadap sasaran di Jalur Gaza, yang menurut IDF menargetkan anggota Hamas dan fasilitas kelompok itu. Sayap militan Hamas, Brigade Izz ad-Din Al Qassam, menembakkan lebih dari 4.300 roket dan mortir ke Israel selama perang 11 hari.

Sementara sebagian besar proyektil Hamas dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome Israel, sedangkan Gaza memiliki sedikit pertahanan udara dan bom-bom jatuh di gedung-gedung apartemen di kota berpenduduk padat itu.

BACA JUGA: Naftali Bennett, Calon Perdana Menteri Israel yang Tak Akui Adanya Negara Palestina

Serangan Israel menewaskan 254 orang, 67 di antaranya adalah anak-anak dan 80 di antaranya adalah militan, menurut pejabat kesehatan setempat dan Hamas. Di Israel, 12 warga sipil, termasuk dua anak-anak, terbunuh oleh roket Hamas.

Toledano mengatakan IDF mencoba untuk "memaksimalkan" konflik saat opini publik di Israel ada di pihak mereka.

“Kami tidak melakukan operasi seperti ini setiap minggu atau setiap bulan karena kami memahami beban yang ditanggung oleh warga sipil, terutama di garis depan. Dan karena itu ketika kami meluncurkan operasi ini, kami harus memanfaatkannya sebaik mungkin,” katanya, seraya menambahkan bahwa “perang ini rumit dalam hal roket.”

“Kami benar-benar siap untuk melanjutkan dari hari ke-11, dengan hari ke-12, dengan hari ke-13. Itu semua bergantung pada situasi keamanan,” lanjutnya. “Jika kami berhasil dengan tahap pertama ini, itu bagus. Jika tidak, kami harus melanjutkannya.”

Operasi militer besar Israel sebelumnya di Gaza, pada 2009 dan 2014, masing-masing berlangsung beberapa minggu dan menewaskan ribuan orang, sebagian besar dari mereka adalah warga Palestina di Gaza, tetapi juga melihat peningkatan signifikan jumlah warga sipil Israel yang terbunuh dan terluka juga.

Setelah gencatan senjata 20 Mei, baik IDF dan Hamas telah mengklaim kemenangan. Hamas menyebut operasi itu "Pedang Yerusalem" dan mengatakan niatnya adalah untuk menghentikan serangan oleh polisi Israel terhadap jamaah di Masjid Al-Aqsa dan di lingkungan Palestina Sheikh Jarrah, di mana beberapa keluarga Palestina berisiko diusir setelah serangan Israel. pengadilan memutuskan mendukung pemukim Yahudi.

Namun, sementara IDF mengklaim telah menghancurkan sejumlah besar roket yang ditimbun dan infrastruktur Hamas dan menembak jatuh sekitar 90% roket yang diluncurkan, Times of Israel mengatakan setelah konflik bahwa "Operasi Penjaga Tembok" IDF bukanlah kemenangan gemilang yang diharapkan Yerusalem.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini