Share

Penyebaran Covid-19 di Indonesia Lebih Luas Daripada Data Resmi

Agregasi VOA, · Jum'at 04 Juni 2021 21:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 18 2420416 penyebaran-covid-19-di-indonesia-lebih-luas-daripada-data-resmi-uJyruNniES.jpg Seorang warga sedang melakukan tes usap (Foto: Okezone)

TINGKAT prevalensi Covid-19 di Indonesia berkali-kali lipat lebih tinggi daripada yang ditunjukkan angka resmi. Hal itu terungkap melalui studi yang dilakukan dua orang penulis.

Dengan jumlah penduduk 270 juta, Indonesia mencatat 1,83 juta kasus positif. Namun, para ahli epidemiologi telah lama percaya bahwa skala penyebaran yang sebenarnya dikaburkan oleh kurangnya pengujian dan pelacakan kontak.

Hasil studi seroprevalensi besar pertama di Indonesia - yang menguji antibodi - diungkapkan secara eksklusif kepada Reuters.

Baca Juga:  Warga Positif Covid-19 dari Klaster Hajatan Bertambah Jadi 41 Orang

Satu studi nasional antara Desember dan Januari menunjukkan 15% orang Indonesia telah tertular Covid-19. Angka resmi pada akhir Januari mencatat infeksi hanya terjadi pada sekitar 0,4% orang. Bahkan, saat ini total kasus positif di Indonesia baru sekitar 0,7% dari jumlah penduduk.

Pandu Riono, pakar epidemiologi Universitas Indonesia, mengatakan hasil survei tidak di luar ekspektasi karena pelaporan data yang tidak sesuai. Pandu mengerjakan penelitian itu yang dilalukan dengan bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Siti Nadia Tarmizi, juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, mengatakan studi itu mungkin masih awal. Namun, mungkin ada lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan secara resmi karena banyak kasus tidak menunjukkan gejala.

Dia mengatakan Indonesia memiliki pelacakan kontak yang rendah dan kurangnya laboratorium untuk memproses tes.

Baca Juga:  Covid-19 Mengganas di Kudus, Moeldoko Imbau Masyarakat Tunda Aktivitas Ziarah

Berdasarkan tes darah, studi seroprevalensi mendeteksi antibodi yang muncul pada orang yang kemungkinan besar sudah terjangkit penyakit tersebut. Angka resmi sebagian besar didasarkan pada tes swab, yang mendeteksi virus itu sendiri dan hanya mengungkapkan mereka yang sedang terinfeksi pada saat itu.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Antibodi berkembang satu sampai tiga minggu setelah seseorang tertular virus dan menetap di dalam tubuh selama berbulan-bulan.

Pengujian Lemah

Studi seroprevalensi di negara lain, termasuk India, juga mengungkapkan penyebaran infeksi yang lebih luas.

"Sistem surveilans resmi kami, tidak dapat mendeteksi kasus COVID-19. (Sistem) ini lemah," kata peneliti utama studi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, yang memberikan komentar tetapi tidak berwenang mengonfirmasi angka tersebut.

"Pelacakan kontak dan pengujian di Indonesia sangat buruk dan menjelaskan mengapa sedikit kasus yang terdeteksi."

Pandu, yang ikut menulis studi itu, mengatakan bahwa meskipun studi tersebut menunjukkan penyebaran virus yang lebih luas, Indonesia tampaknya masih jauh dari target mencapai kekebalan kelompok. Hal ini menjadi prioritas untuk mempercepat vaksinasi.

Menurut data pemerintah, baru 6% dari target 181 juta penduduk Indonesia, yang telah menerima dua dosis vaksinasi lengkap. Sebanyak 9,4% telah mendapatkan satu suntikan.

Hasil awal dari studi seroprevalensi terpisah di Bali, yang dilakukan oleh Universitas Udayana, mendapati 17 persen dari mereka yang diuji pada September dan November tampaknya telah terinfeksi. Peneliti utama studi itu, Anak Agung Sagung Sawitri, mengungkapkan hasil studi itu kepada Reuters.

Hasil itu 53 kali lebih tinggi dari tingkat infeksi berdasarkan kasus yang tercatat secara resmi pada periode yang sama di Bali, yang berencana dibuka kembali untuk pengunjung internasional bulan depan.

Pembukaan kembali ini ditentang oleh beberapa pakar kesehatan masyarakat, termasuk akademisi dan dokter Ady Wirawan. "Pengujian, pelacakan, isolasi, dan karantina sangat sangat lemah di Bali," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini