Kontan saja Gagak rimang langsung berlari menyeberangi sungai bengawan sore karena tertarik dengan kuda betina prajurit pajang dengan Aryo Penangsang masih menungganginya.
Akhirnya terjadilah peperangan sengit antara Aryo Penangsang dengan Sutawijaya, seorang senopati Pajang, yang membawa tombak pusaka kerajaan Demak, Tombak Kyai Pleret.
Sebenarnya Sutawija sendiri merupakan keponakan Aryo Penangsang dan saat itu masih muda sekali sehingga Aryo Penangsang meremehkannya dengan tidak menghunus kerisnya.
Dan dengan tombak Kyai Pleret Sutawijaya dapat merobek perut Aryo Penangsang. Tetapi dengan kesaktiannya Aryo Penangsang tidak apa-apa walaupun ususnya terburai keluar. Lalu usus yang terburai tadi dikalungkanya pada keris di pinggangnya. Dengan kesaktiannya Sutawijaya dapat dikalahkan.
Namun Aryo Penangsang tidak berniat membunuhnya, mengingat Sutawijaya masih keponakannya sendiri. Ki Jurumertani yang berotak cerdik lalu malah memanas manasi Aryo Penangsang untuk membunuh saja Sutawijaya.
Aryo Penangsang akhirnya terprovokasi juga dan mencabut kerisnya yang terkenal dengan nama Keris Setan Kober. Aryo Penangsang lupa bahwa ia masih mengalungkan ususnya di keris tersebut hingga akhirnya ususnya terpotong lalu meninggal.
”Sampai sekarang peristiwa Aryo Penangsang yang mengalungkan ususnya di keris masih diabadikan dalam acara temanten tradisional di daerah utara dan timur jawa tengah, dimana temanten lelaki mengalungkan rangkaian kembang melati di keris yang terselip di pinggangnya,”katanya.
Dan setelah kekalahan itu tampaknya Jipang tidak lagi menjadi pusat Kadipaten dan sekarang Jipan hanya menjadi sebuah desa yang tanahnya begitu subur karena Bengawan Solo yang setiap selesai banjir meninggalkan lumpur humus yang subur.
(Sazili Mustofa)