“Saya kira saya bisa (membawakan) beberapa pakaian untuknya,” katanya kepada kantor berita AFP.
Namun, menurut seorang petugas polisi, hal itu tidak perlu karena suaminya telah meninggal. Banyak yang menduga dia tewas dibunuh.
Myanmar telah bergejolak sejak kudeta 1 Februari lalu yang mengakhiri pemerintahan demokrasi 10 tahun yang telah melonggarkan belenggu penyensoran dan memungkinkan ekspresi diri yang lebih besar.
(Baca juga: Polisi Israel Serang Warga Palestina yang Protes Pengusiran Paksa, 23 Orang Terluka)
(Susi Susanti)