Simpanse Ditembak Mati Usai Serang dan Gigit Anak Pemiliknya

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 23 Juni 2021 11:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 23 18 2429553 simpanse-ditembak-mati-usai-menyerang-anak-pemiliknya-ze6azcTvaV.jpg Simpanse ini ditembak mati usai menyerang putri pemiliknya (Foto: Buck Brogoitti Animal Rescue INC/Facebook)

OREGON - Seekor simpanse kesayangan yang telah dipelihara sebagai hewan peliharaan di sebuah peternakan keluarga selama 17 tahun harus ditembak mati akhir pekan ini setelah menyerang putri pemiliknya.

Buck si simpanse ditembak oleh seorang petugas polisi ketika dengan kasar menggigit kaki, lengan, dan dada wanita berusia 50 tahun pada Minggu (20/6).

Pemilik simpanse Tamara Brogoitti langsung buru-buru menelepon 911 saat dia dan putrinya bersembunyi dari simpanse yang kejam di kamar tidur bawah tanah mereka.

"Dia (simpanse) telah menyerang putri saya yang berusia 50 tahun,” ujar Brogoitti dalam audio 911 yang diperoleh KHQ-TV.

"Dia membutuhkan ambulans. Ambulans tidak bisa mendapatkannya. Saya mengunci diri di ruang bawah tanah bersamanya. Saya tidak bisa keluar untuk mengambil senjata saya sendiri. Dia berdarah deras. Saya belum pernah melihat yang seperti ini,” lanjutnya.

(Baca juga: Guru Ini Dilarang Mengajar Seumur Hidup Usai Merekam Anak-Anak di Toilet)

Petugas mengatakan mereka terpaksa menembak mati hewan itu sehingga mereka bisa dengan aman menyelamatkan korban yang terluka. Kedua wanita itu dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.

Buck dilaporkan ditemukan berkeliaran di dekat pagar yang mengelilingi properti Brogoitti ketika petugas tiba di tempat kejadian.

Polisi menyimpulkan bahwa Buck harus "ditembak" agar bisa menyelamatkan wanita yang terluka itu.

Buck ditembak sekali di kepala setelah petugas meminta izin dari pemiliknya.

(Baca juga: Desak GNB Cari Solusi Permanen untuk Palestina, Indonesia Sampaikan 3 Hal)

Simpanse ini diketahui telah tinggal bersama keluarga selama 17 tahun di peternakan mereka sebelum serangan tragis itu terjadi.

Buck si simpanse adalah bagian dari Buck Brogoitti Animal Rescue, sebuah badan amal nirlaba yang merawat kuda-kuda yang telah disita oleh polisi dalam kasus pelecehan dan pengabaian.

Negara bagian Oregon tidak mengizinkan atau ilegal memelihara simpanse dan kera besar lainnya sebagai hewan peliharaan pada tahun 2010. Namun undang-undang mengizinkan mereka yang dimiliki sebelum tahun 2010 disimpan sampai akhir kehidupan alami mereka.

Peraturan ini memungkinkan Buck untuk tetap dalam perawatan keluarga Brogoitti.

Kendati demikian, kelompok hak-hak binatang seperti PETA mengatakan bahwa Buck adalah "bom waktu yang berdetak" dan kera yang berbahaya karena dia telah tinggal di properti itu untuk jangka waktu yang lama.

"PETA memperingatkan otoritas negara bagian bahwa Tamara Brogoitti telah menciptakan bom waktu dengan melakukan kontak langsung dengan kera berbahaya, dan sekarang, dia sudah mati dan seorang wanita telah dianiaya karena penolakan Brogoitti untuk mengikuti saran para ahli dan memindahkan Buck ke tempat perlindungan yang terakreditasi,” terang Deputi Penasihat Umum Yayasan PETA untuk Penegakan Hukum Hewan Penangkaran Brittany Peet kepada KXLY.com.

"Sejak jauh sebelum simpanse Travis mencabik wajah seorang wanita pada tahun 2009, sudah jelas bahwa serangan tidak dapat dihindari selama orang terus memperlakukan simpanse seperti Chihuahua,” lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini