JAKARTA - Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels memerintahkan kepada Sultan Banten mengirimkan pekerja rodi sebanyak-banyaknya untuk membangun pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Tapi karena daerahnya berawa-rawa maka banyak pekerja yang mati, terkena hawa beracun atau penyakit malaria, atau melarikan diri.
Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biang keladi larinya pekerja-pekerja itu.
Melalui utusan Sultan yang dipanggil datang ke Batavia, Daendels memerintahkan supaya Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyat setiap hari untuk dipekerjakan di Ujung Kulon.
Menyerahkan Patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia sehingga Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer, karena Surosowan akan dijadikan benteng Belanda.
"Sudah tentu tuntutan ini ditolak oleh Banten Sultan Aliudin," ujar (alm) Ismetullah Al Abbas, Sultan Banten.
Baca juga: Apakah Masih Terpendam Harta Kesultanan Banten Setelah Diangkut Daendels?
Mengetahui sikap Sultan yang demikian, dengan segera dan sembunyi-sembunyi, dikirimnya pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin Daendels sendiri ke Banten.
Dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Kemudian diutuslah Komondeur Philip Pieter du Puy dengan beberapa orang pengawalnya ke istana Surosowan untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan, tanpa memberitahukan bahwa pasukan Belanda sudah disiapkan di luar kota.
Namun karena kebencian yang sudah memuncak kepada Belanda, Du Puy dan seluruh pengawalnya dibunuh oleh pasukan pengawal kraton di depan pintu gerbang benteng Surosowan.
Baca juga: Kisah Daendels Hancurkan Keraton Surosowan Banten, Sultan Dibuang ke Ambon dan Patihnya Dipancung