Share

Curhatan Pilu Seorang Nakes: Sudah Risiko Terpapar Covid hingga Wafat

Avirista Midaada, Okezone · Senin 28 Juni 2021 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 28 519 2431927 curhatan-pilu-seorang-nakes-sudah-risiko-terpapar-covid-hingga-wafat-Llp6k6XnbQ.jpg Foto: Okezone

MALANG – Lonjakan kasus harian Covid-19 di Jawa Timur membuat keterisian kamar di rumah sakit ikut meningkat. Sementara itu, peningkatan pasien ini juga membuat Eko Yanuar Listiyo perawat di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Malang, harus kembali bersiap menghadapi panggilan tugas menangani pasien Covid-19. Apalagi dari laporan terakhir telah ada peningkatan pasien Covid-19 di rumah sakit tempatnya bekerja.

(Baca juga: Polisi Tangkap Pengemudi Pajero Penganiaya Sopir Kontainer, Ini Tampangnya)

Sebelumnya Eko Yanuar perawat di RS Lavalette telah pernah bertugas merawat pasien - pasien Covid-19 selama 9 bulan sejak Mei 2020 hingga Januari 2021 awal lalu. Ia merasakan bagaimana kala itu ledakan pasien Covid-19 begitu tinggi. Namun semenjak kasus Covid-19 mereda, ia hingga kini dialihkan melayani pasien rawat inap umum di RS Lavalette Malang.

(Baca juga: Wapres Ma'ruf: Narkoba dan Covid-19 Musuh Terbesar Bangsa!)

"Terakhir Januari 2021 lalu itu, 9 bulan menangani Covid-19, waktu itu Covid-19 memang lagi menurun pas saya selesai tugas. Tapi kalau ada panggilan lagi ya siap namanya, cuma ini digilir yang sekarang yang belum pernah nangani Covid-19 ditugaskan di situ. Apalagi ini infonya ada peningkatan pasien di semua rumah sakit, termasuk di tempat saya kerja," ucap Eko Yanuar ditemui di rumahnya, Minggu malam (27/6/2021).

Dirinya menuturkan, RS Lavalette tempatnya bekerja di awal - awal kenaikan pasien Covid-19 di 2020 sempat menambah ruangan perawatan pasien non-covid19, menjadi ruang pinere sebagai ruangan khusus Covid-19. Ruangan pinere bernama zamrud ini bahkan sampai kini masih difungsikan, apalagi seiring penambahan pasien Covid-19 seperti sekarang.

"Sebelumnya sudah ada ruang diamond, karena terlalu berlebihan buka ruang pinere ini. Aku salah satu yang ditarik ditugaskan membabat alas, mulai tambah - tambah terus. Satu shift pasiennya di atas 20 orang, tapi maksimalnya diisi 30 orang di ruangan saya," terang dia.

Dia menjelaskan, bila di tempat kerjanya terdapat tiga pembagian ruangan perawatan Covid-19. Satu ruangan dinamakan ruang topas untuk merawat pasien dengan gejala ringan dengan oksigen tipis - tipis, ruangan kedua yakni ruang zamrud tempat dimana ia bekerja.

"Di sini ruangan saya pasien yang dari topas digeser ke sini, kalau parah lagi sampai henti napas biasanya dipindahkan ke ruang sebelah diamond. Ruang ini sebelumnya sudah ada, di ruangan ini lebih lengkap alatnya, ada ventilatornya. Semakin berat di ruanganku dipindah di ruangan diamond di ruangan sebelah, sewaktu-waktu pasein tidak bernafas digeser ke ruang sebelah," paparnya.

Ia mengisahkan bagaimana 9 bulan dirinya dan rekan - rekannya berjuang menangani pasien - pasien Covid-19 dengan beragam gejala. Para pasien ini disebut Eko, datang dengan beragam gejala mulai ringan hingga berat, dari mulai yang dirawat sembuh, sampai yang meninggal dunia, hal itu menjadi makanan sehari - harinya.

"Beberapa kali (pasien) menghembuskan napas beberapa kali. Kadang - kadang susah terdeteksi, kadang orang ditanya sesak nggak, biasnya orangnya ngomong nggak sesak, tapi ternyata oksigennya turun napas sulit, baru beberapa jam masuk cepat sekali (meninggal dunia). Tapi tergantung kondisi pasien sendiri, bisa 3 - 4 minggu pakai ventilator juga," ucapnya.

Di antara pasien yang menghembuskan napas ini disebutnya memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Namun tidak semuanya dari mereka justru berusia di atas 50 tahun, beberapa pasiennya bahkan masih berusia 30 - 40 tahun dan harus menjalani perawatan intensif karena adanya komorbid.

"Itu kondisinya cepat sekali lebih dari 3 jam, biasanya, awalnya biasa - biasa dulu, lama - lama dari saturasi oksigen yang masuk ke tubuh turun, ngangkat sebentar, terus menurun, rata - rata itu ada komorbidnya. Bervariasi umurnya, tapi ada umur 30 - 40 kondisinya bisa jelek. Ada (sampai meninggal dunia pakai ventilator)," ungkap perawat satu orang anak inim

Saat tinggi - tingginya pasien Covid-19 di tahun 2020 waktu itu diakui pihaknya kewalahan dalam menangani pasien - pasien Covid-19 yang masuk ke rumah sakit. Bahkan untuk sekedar minum dan mengabadikan momen tersebut melalui handphone. Namun ia beruntung, beban kerja di rumah sakit milik BUMN ini sesuai dengan standar yang ditentukan.

Jam kerja maksimal satu shiftnya di zona merah area perawatan Covid-19 dibatasi maksimal 5 jam sesuai standar WHO dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Selain itu, infrastruktur alat pelindung diri (APD) pun juga disebutnya memadai, sehingga bisa memaksimalkan kinerja melayani para pasien.

"Satu shift paling lama 5 jam di red zone, nggak boleh dari 5 jam, itu standar WHO dan Kemenkes seperti itu. Karena resikonya berat, napas susah karena pakai N95 masker tebal itu, benar - benar rapat, hazmatnya juga kedap udara, resiko dehidrasi kurang cairan, minum nggak bisa, mau buang air juga nggak bisa. Jadi sudah SOP-nya separah-parahnya (pasien bertambah) yang ditambah orang di setiap shift-nya, bukan jam kerjanya," beber dia.

Kendati telah melakukan protokol kesehatan dengan sarana prasarana yang memadai, Eko tetap terpapar Covid-19 pada pertengahan Desember 2020. Hal itu terdeteksi karena tempat bekerjanya rutin memeriksa setiap tenaga kesehatannya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dari sana ia menyebut, selama satu minggu dirinya berpisah dengan anak dan istri, karena harus menjalani isolasi di rumah sakit. Beruntung dirinya, pasien tanpa gejala sehingga setelah satu pekan diisolasi dites swab PCR, kembali negatif hingga akhirnya bisa pulang.

"Saya seminggu isolasi di rumah sakit. Alhamdulillah saya tanpa gejala, anak istri ditracing, di swab Alhamdulillah negatif. Semua disuruh swab. Soalnya carier ringan, jadi membawa virus sedikit, jadi tidak sampai menulari ke anak istri," bebernya.

Dirinya mengisahkan sejak terpapar Covid-19 itu ia kian berhati - hati dan menjaga dirinya, meski sebelumnya protokol kesehatan ketat telah dijalaninya, setelah selesai bertugas merawat pasien Covid-19. Ada tiga pembagian zona dalam penanganan pasien Covid-19 di rumah sakitnya.

Zona hijau merupakan area luar dimana masyarakat dan penjenguk di rumah sakit bisa masuk, memasuki zona oranye merupakan area steril, dimana area ini diperuntukkan bagi tenaga kesehatan yang akan bersiap memasuki zona merah. Di zona oranye ini alat pelindung diri (APD) lengkap untuk merawat pasien Covid-19 telah, dipakai. Memasuki zona merah, tenaga kesehatan ini baru berinteraksi langsung dan merawat dengan para pasien Covid-19.

"Jadi sebelum pulang bersih - bersih dulu di rumah sakit, jadi di ada tiga zona, green zone (zona hijau), yellow zone (zona kuning), dan red zone (zona merah). Red zone itu harus pakai hazmat, yellow zone itu untuk persiapan masuk ke red zone, sehabis bertugas dari juga bersih - bersih mandi di yellow zone. Setelah selsai semua baru boleh keluar ke green zone," jelasnya.

Di akhir obrolan dirinya menegaskan kembali bahwa tenaga kesehatan yang menjadi gerbang terdepan menghadapi Covid-19, adalah yang paling berisiko dalam situasi pandemi seperti ini.

"Sebagai tenaga kesehatan ya ini resikonya, kalau memang terpapar bakal pertama kali, kalau meninggal ya ini risikonya. Itu sama tentara yang ditugaskan di daerah konflik," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini