JAKARTA - Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama atau disingkat Banser merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) dari GP Ansor.
Tahun 1924 berdiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid, melalui media khusus telah memiliki anggota 65 orang.
Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktivitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.
Karena Subbanul Wathan telah diterima baik maka membentuk organisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro.
Baca juga: Anggota Banser Jombang Meninggal Dunia Saat Imami Sholat Tarawih
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, banyak anggota Gerakan Pemuda Ansor umumnya dan Banser khususnya yang direkrut dalam pelatihan militer.
Laskar Hizbullah yang kemudian dikenal sebagai salah satu laskar penting dalam perang kemerdekaan diisi oleh banyak anggota Gerakan Pemuda Ansor dan Banser. Periode Jepang ini diyakini turut membentuk watak paramiliter sekaligus watak nasionalistis dari Banser.
Baca juga: Abu Janda Ternyata Pernah Ikut Pendidikan dan Pelatihan Banser
Dalam buku Ensiklopedia NU disebutkan Banser NU Akronim dari Barisan Serba Guna NU. Lembaga semi-otonom dari GP Ansor, organisasi pemuda NU, yang berdiri pada 1930, empat tahun setelah NU didirikan.
Banser adalah barisan pemuda yang dikenal dengan penampilannya, mulai dari pakaian, sepatu, topi, hingga atribut-atribut lainnya.