Studi: Peradangan Jantung Usai Divaksin Covid-19 Lebih Tinggi

Antara, · Kamis 01 Juli 2021 06:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 18 2433565 studi-peradangan-jantung-usai-divaksin-covid-19-lebih-tinggi-0g70YV6nwN.jpg Ilustrasi vaksin Covid-19 (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Menurut studi penelitian yang dirilis, Selasa (29/6), anggota militer Amerika Serikat (AS) yang disuntik vaksin Covid-19 menunjukkan tingkat peradangan jantung yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, meski kondisi tersebut masih sangat langka.

Studi itu menemukan 23 pria yang sebelumnya sehat dengan rata-rata usia 25 tahun mengeluh nyeri dada dalam empat hari usai disuntik vaksin Covid-19. Tingkat insiden lebih tinggi dari sejumlah perkiraan yang diantisipasi sebelumnya, katanya.

Semua pasien, yang pada saat publikasi studi telah sehat atau sembuh dari miokarditis - peradangan otot jantung - menerima baik vaksin buatan Pfizer, BioNTech atau pun Moderna.

Regulator kesehatan AS pekan lalu menambahkan peringatan pada literatur yang menyertai vaksin mRNA itu guna menandai risiko langka peradangan jantung yang terlihat, terutama pada pria muda. Namun mereka menyatakan manfaat vaksin dalam mencegah Covid-19 masih lebih besar ketimbang risikonya.

(Baca juga: 1.500 WNI Terkena Penguncian yang Diperketat di Kuala Lumpur)

Studi, yang diterbitkan di jurnal medis JAMA Cardiology, menuliskan sebanyak 19 pasien merupakan anggota militer aktif yang menerima dosis kedua vaksin. Sisanya sudah menerima satu dosis vaksin atau pensiunan militer.

Menurut studi tersebut, estimasi masyarakat umum akan diperkirakan berjumlah delapan atau lebih sedikit kasus miokarditis dari 436.000 anggota militer pria penerima dua dosis vaksin Covid-19,

(Baca juga: KJRI Hong Kong Koordinasi dengan Aparat Terkait Pemerkosaan Pekerja Migran)

Panel pakar luar yang menasihati Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS pekan lalu mengatakan bahwa laporan miokarditis lebih tinggi terjadi pada pria dan dalam sepekan setelah dosis kedua daripada yang diantisipasi pada populasi umum. Presentasi pada pertemuan itu menemukan kondisi jantung muncul pada tingkat sekitar 12,6 kasus per juta orang penerima vaksin.

Delapan pasien anggota militer dalam studi tersebut diberikan scan diagnostik dan menunjukkan tanda-tanda peradangan jantung yang tidak dapat dijelaskan oleh sebab lain, berdasarkan studi. Kisaran usia pasien dalam studi itu yakni 20-51 tahun.

CDC mulai menyelidiki kaitan potensial antara vaksin mRNA dan miokarditis pada April setelah Israel mengumumkan bahwa mereka sedang mempelajari kasus seperti itu pada penerima vaksin Pfizer/BioNTech di sana, dan setelah adanya laporan bahwa militer AS juga menjumpai kasus serupa.

Regulator kesehatan di sejumlah negara sedang melakukan penyelidikannya sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini