Gelombang Panas Ekstrem, 130 Hutan Terbakar, 700 Orang Meninggal

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 04 Juli 2021 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 04 18 2435214 gelombang-panas-ekstrem-130-hutan-terbakar-700-orang-meninggal-ivVtxGpYXy.jpg Kebakaran hutan di Kanada (Foto: Reuters)

  • Tercatat 719 kematian mendadak dalam seminggu

Kantor pemeriksa medis provinsi itu mengatakan panas yang ekstrem kemungkinan berkontribusi pada 719 kematian mendadak selama seminggu terakhir - angka yang dikatakan "tiga kali lebih banyak" daripada rata-rata sepanjang tahun.

"Banyak kematian yang dialami selama seminggu terakhir di antara orang tua yang tinggal sendirian di tempat tinggal pribadi dengan ventilasi minimal," terang Kepala Koroner Lisa Lapointe dalam sebuah pernyataan.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sebelumnya menyatakan turut berduka kepada keluarga para korban, yang kebanyakan merupakan kalangan lanjut usia (lansia).

Suhu telah mereda di daerah pesisir Kanada, tetapi tidak untuk daerah pedalaman. Dinas Pemadam Kebakaran British Columbia mengatakan pihaknya bersiap akan kemungkinan lebih banyak kebakaran hutan sepanjang akhir pekan.

Suhu tinggi yang tidak normal telah dicatat di sebagian besar Amerika Utara dalam beberapa hari terakhir.

Rekor suhu panas di Kanada dipecahkan selama tiga hari beruntun. Di sebuah daerah, gelombang panas tercatat hampir menembus 50 derajat Celcius.

Yang terkini adalah pada Selasa (29/06), ketika temperatur mencapai 49,6 derajat Celcius di Lytton, Provinsi British Columbia.

Para pakar mengatakan perubahan iklim diperkirakan meningkatkan jumlah kejadian cuaca ekstrem, semisal gelombang panas.

Akan tetapi menghubungkan satu kejadian dengan pemanasan global cukup pelik.

Gubernur Provinsi British Columbia, John Horgan, menilai pekan terpanas di kawasan itu telah menimbulkan "konsekuensi malapetaka bagi banyak keluarga dan komunitas".

Jumlah korban akibat cuaca panas di bisa meningkat lantaran sejumlah daerah belum menghimpun data.

Di Vancouver saja, gelombang panas diyakini menjadi faktor penentu kematian 65 orang sejak Jumat (25/06).

"Saya sudah menjadi polisi selama 15 tahun dan saya belum pernah mengalami jumlah kematian mendadak dalam kurun waktu yang singkat," kata Sersan Polisi Steve Addison.

Menurutnya, beberapa orang tiba di rumah saudara dan "menemukan [saudara] mereka sudah meninggal".

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini