NASA Sebut Wilayah Jakarta Terancam Tenggelam

Tim Okezone, Okezone · Kamis 15 Juli 2021 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 15 18 2441071 nasa-sebut-wilayah-jakarta-terancam-tenggelam-9fqp0yJR0K.jpg Foto aerial Jakarta yang diambil pada 2019. (NASA)

JAKARTA - Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan wilayah Jakarta serta pulau reklamasi menjadi salah satu kota yang terancam tenggelam. Hal itu lantaran meningkatnya permukaan air laut dampak pemanasan global dan pencairan lapisan es.

"Hanya sedikit tempat yang menghadapi tantangan seperti itu, salah satunya wilayah metropolitan Jakarta, dengan penduduk 32 juta orang, di Pulau Jawa, Indonesia," demikian mengutip laman Nasa, Kamis (15/7/2021).

NASA memuat 2 foto aerial Jakarta, yaitu foto yang diambil pada 1990 dan 2019. Dalam foto dari Landsat NASA itu menampilkan wajah Jakarta selama 3 dekade belakangan.

Foto aerial Jakarta pada 1990. (NASA)

Urbanisasi yang cepat, perubahan penggunaan lahan, dan pertumbuhan penduduk telah memperburuk masalah. Gambar Landsat di atas menunjukkan evolusi kota selama tiga dekade terakhir. Penggantian luas hutan dan vegetasi lainnya dengan permukaan kedap air di daerah pedalaman di sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane telah mengurangi jumlah air yang dapat diserap oleh lanskap, berkontribusi terhadap limpasan dan banjir bandang.

Dengan populasi wilayah metropolitan yang lebih dari dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2020, lebih banyak orang memadati dataran banjir yang berisiko tinggi. Selain itu, banyak saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah, sehingga sangat rentan terhadap luapan.

Sejak foto diambil pada 1990, lahan buatan dan pembangunan baru telah menyebar ke perairan dangkal Teluk Jakarta. Menurut analisis data Landsat, warga telah membangun setidaknya 1.185 hektare (5 mil persegi) lahan baru di sepanjang pantai.

Sebagian besar lahan digunakan untuk pembangunan perumahan kelas atas dan lapangan golf, kata ilmuwan penginderaan jauh di East China Normal University, Dhritiraj Sengupta.

Sengupta menyebut, pembangunan itu berisiko mereka berada di garis depan Jakarta, yang tak dapat menghindari kenaikan permukaan laut dan gelombang badai.

Pulau-pulau buatan seringkali merupakan jenis tanah yang paling cepat surut karena pasir dan tanahnya mengendap dan menjadi padat seiring waktu. Satelit dan sensor berbasis darat mencatat, sebagian Jakarta Utara mengalami penurunan puluhan milimeter per tahun.

Di pulau-pulau buatan baru, angka tersebut melonjak hingga 80 milimeter per tahun, kata Sengupta.

Beberapa pulau baru dibangun sebagai bagian dari rencana induk Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Nasional Jakarta, sebuah upaya untuk melindungi kota dari banjir dan untuk mendorong pembangunan ekonomi. Inisiatif utama adalah pembangunan tanggul laut raksasa dan 17 pulau buatan baru di sekitar Teluk Jakarta. Meskipun pengerjaan proyek dimulai pada 2015, berbagai masalah lingkungan, ekonomi, dan teknis telah memperlambat konstruksi dan mengurangi ruang lingkup.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini