Bayi di India Ini Diculik Dua Kali dalam Sebulan, Ini Alasannya

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 19 Juli 2021 03:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 18 2442622 bayi-di-india-ini-diculik-dua-kali-dalam-sebulan-ini-alasannya-yhojjCVI7p.jpg Bayi Meena telah diculik dua kali padahal usianya baru dua bulan. (Foto: BBC)

GANDHINAGAR - Seorang bayi berusia dua hari yang lahir di keluarga buruh harian di Negara Bagian Gujarat, India barat, diculik tak hanya sekali tetapi dua kali dalam jangka waktu sebulan. Upaya penculikan yang berulang itu telah membuat orang tua si bayi terguncang.

"Saya tak akan lagi membiarkan putra saya lepas dari pandangan saya," kata Meena Wadi, ibu si bayi, seorang buruh miskin yang tinggal di Kota Gandhinagar di Gujarat kepada BBC.

BACA JUGA: Viral, Iklan Cari Jodoh 'Pria Kaya yang Tidak Kentut dan Sendawa'

Penderitaan Meena dimulai sehari setelah ia pulang dari rumah sakit dengan membawa bayi itu pada tanggal 1 April.

Ia mengatakan seorang perempuan, yang mengklaim sebagai perawat di rumah sakit tempat ia melahirkan, berkunjung ke rumahnya dan berkata bahwa bayinya perlu divaksinasi. Jadi, Meena, bersama putranya, ikut bersama si perempuan ke rumah sakit.

Perempuan itu kemudian membawa si bayi untuk difoto dan meminta Meena menunggu.

BACA JUGA: Selamatkan Bayi 21 Hari yang Dibuang ke Sungai, Tukang Perahu Dapat Hadiah Rumah

Berjam-jam kemudian, si perempuan belum juga kembali.

Meena yang panik mulai mencari dia.

"Ketika mendengar tangisan saya, petugas keamanan menanyakan apa yang terjadi. Setelah saya beri tahu mereka, mereka memanggil polisi," tuturnya.

Lebih dari 43.000 anak menghilang di India pada tahun lalu, menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Di Gujarat, data resmi mengatakan sekitar 3.500 anak menghilang setiap tahun.

Para pegiat hak anak mengatakan jumlah sebenarnya bisa lebih besar karena orang tua yang miskin jarang membuat laporan kehilangan - namun Meena dan suaminya, Kanu, segera melapor ke polisi.

Pencarian 

"Meena tidak tahu apa-apa tentang perempuan itu, namanya juga tidak tahu. Ia juga tidak bisa menggambarkan rupanya," kata inspektur polisi HP Zala, yang memimpin investigasi.

Jadi Zala dan timnya memeriksa rekaman CCTV di area sekitar rumah sakit. Di situlah mereka menemukan petunjuk pertama - seorang perempuan terlihat berjalan ke arah jalan utama dengan buntalan di bawah sari-nya.

Mungkinkah itu bayi Meena? Sulit diketahui dengan pasti.

Setelah menanyai hampir 500 tukang becak, polisi menyusun kronologi kejadian dari potongan-potongan kesaksian mereka: perempuan dalam rekaman CCTV naik becak ke desa tetangga. Saksi mata berkata perempuan itu membawa bayi.

Polisi kembali menilik rekaman CCTV dari desa tersebut dan menanyai pemilik toko di sepanjang jalan raya, mengikuti jejak petunjuk yang membawa mereka ke desa lain, tempat perempuan yang membawa bayi dilaporkan terakhir kali dilihat.

Pencarian di area tersebut membawa polisi ke sebuah peternakan yang telah ditinggalkan pemiliknya, dan di sana mereka menemukan pakaian wanita dan sebuah kartu Aadhar, identitas biometrik nasional (seperti KTP). Mereka lalu mengunjungi alamat yang tercantum dalam kartu tersebut.

Mereka menemukan seorang perempuan dengan bayi, namun bayi tersebut bukan milik Meena.

Perempuan itu berkata kepada polisi bahwa suaminya telah kawin lari dengan perempuan lain, yang ia tuduh mencuri barang-barangnya, termasuk kartu identitas yang ditemukan polisi.

Bayinya, ia menambahkan, adalah anak dari perkawinan keduanya.

"Kami mulai mencari suaminya dan menemukan satu pasangan yang tinggal bersama seorang anak di alamat yang diberikan oleh perempuan pertama," kata Zala. Tes DNA mengonfirmasi bahwa anak itu adalah milik Meena.

Pasangan tersebut ditangkap tetapi sekarang mereka telah bebas dengan jaminan.

Si perempuan disebut mengaku telah menculik bayi Meena dan berusaha memfitnah istri pertama si laki-laki dengan menaruh pakaian dan kartu identitasnya di peternakan tersebut. Namun si laki-laki (suami perempuan pertama) berkali-kali mengatakan kepada polisi ia tidak tahu apa-apa dan berasumsi bayi tersebut adalah anaknya.

Perempuan yang diduga menculik bayi Meena berkata ia telah melahirkan bayi yang meninggal dalam kandungan, dan ia takut suaminya akan meninggalkannya jika ia pulang tanpa seorang putra.

Polisi mengatakan ceritanya bukan hal yang tak biasa.

"Ada keinginan di kalangan orang tua untuk memiliki anak laki-laki daripada perempuan," kata mantan petugas polisi Deepak Vyas. "Mereka pokoknya ingin anak laki-laki. Didorong oleh kegilaan ini, banyak orang menculik anak dari keluarga miskin."

Percobaan kedua

Meena dan Kanu senang tak terkira ketika mendapatkan putra mereka kembali, namun kebahagiaan mereka tak berumur panjang.

Pada 9 Juni, dua bulan setelah putra mereka kembali, ia menghilang lagi.

Meena sedang keluar mengumpulkan barang rongsokan sementara si bayi tidur di bawah pohon. Namun ketika perempuan itu kembali, bayinya tidak ada di buaiannya.

Ketika ia dan suaminya pergi ke kantor polisi, Inspektur Zala mengatakan ia kaget melihat suami-istri itu lagi.

Lagi-lagi, rekaman kamera pengawas di wilayah tersebut menuntun polisi ke seorang tersangka - kali ini, seorang pria yang naik sepeda membawa anak terlihat pada hari bayi Meena menghilang.

Namun ketika polisi melacak pria itu, dia berkata kepada mereka bahwa bukan dia yang naik sepeda hari itu - tetapi temannya yang tinggal di negara bagian sebelah, Rajasthan.

Tim Inspektur Zala pun mengontak polisi di Rajasthan dan bersama-sama mereka menggerebek rumah pria itu - bayi Meena ada di sana.

Pria itu dan istrinya, yang telah ditangkap polisi, mengatakan mereka menculik bayi Meena karena mereka tidak punya anak.

"Dia pernah bekerja di tempat konstruksi bersama suami Meena. Ketika ia mengetahui tentang bayi itu, ia membuat rencana untuk menculiknya," kata Zala.

Empat hari kemudian, Meena kembali disatukan dengan putranya.

Polisi sekarang mengunjungi keluarga itu secara rutin untuk mengecek keadaan si bayi - Meena mengatakan polisi sering membawa hadiah untuk putranya dan bermain dengannya.

"Polisi menyayanginya lebih dari kami," ia menambahkan.

Inspektur Zala tidak menyangkalnya, "Kami tidak bisa membiarkan si bayi lepas dari pengawasan kami."

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini